Pada Sebuah Hati

Arif Rahmawan June 22, 2012
“Di hati ini bersemayam sebuah kuburan, kuburanmu yang kuziarahi setiap hari”….

…….

Di dalam KBBI, hati memiliki banyak arti. Akan tetapi hati yang saya maksud adalah sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dsb).



Kemudian hati dalam bahasa inggris disebut dengan heart. Heart dalam bahasa Indonesia disebut dengan hati. Begitu seterusnya dan sebaliknya. Lalu, jika huruf h pada kata heart ini kita letakkan pada bagian belakang kata tersebut akan muncul sebuah kata dengan arti baru, earth. Kata earth berarti bumi.
Lalu adakah hubungan antara heart dengan earth. Adakah hubungan antara hati manusia dengan bumi. Jawabannya ada.

Jika kalian baca sebaris puisi di awal tulisan ini. Sebuah puisi yang saya dapat dari hasil menggali ke dalam lubuk hati saya yang paling dalam *uhuk. Di situ tertulis bahwa di hati terdapat sebuah kuburan (sebuah perumpamaan yang sangat mengerikan ). Sebenarnya sih ada banyak perumpaan tentang hati. Ia sering diumpamakan seperti samudera. Sebagaimana tercantum dalam kalimat berbahasa Yahudi ini. “Sing jembar segarane”. Hah Yahudi?. Iya, kalimat tersebut memang berbahasa Yahudi. Tahu sendiri kan, Yahudi dalam bahasa Inggris disebut dengan Jews. Kata Jews itu kan mirip-mirip dengan Jawa he he.

Kalimat tersebut berarti, yang luas samuderanya,yang luas hatinya, yang luas kesabarannya atau yang luas pintu maafnya. Kalimat ini lazim diucapkan oleh masyarakat Jawa dengan tujuan untuk menghibur seseorang agar bersabar ketika menghadapi masalah.

Saya lebih suka mengibaratkan sebuah hati dengan bumi. Luas mana coba bumi dengan samudera?. Lebih luas bumi kan. Seluas-luasnya samudera dia tetap menjadi bagian dari bumi.

Lagi-lagi marilah kembali ke sepenggal puisi di atas, ada sebuah kata yang tertulis di atas yaitu kuburan. Kuburan identik dengan sebuah peristiwa kematian. Kelak, kita semua akan berada di alam kematian, sebuah dimensi lain dari kehidupan di alam ini. Sebuah alam yang sampai sekarang belum terjamah ilmu pengetahuan. Sebuah jalan yang harus ditempuh oleh semua umat manusia.

Alam kematian sering disebut sebagai alam keabadian, alam di mana manusia akan hidup selama-lamanya. Ada juga yang mengatakan bahwa alam kematian adalah alam di mana manusia akan mendapatkan balasan dari amal perbuatannya di dunia ini. Kualitas alam kematian tergantung dengan amal kebajikan manusia ketika berada di dunia. Semakin banyak kebajikan yang ditebarkan di jagat raya ini. Maka kualitas alam kematian semakin baik.

Salah satu “alat” yang diperiksa oleh Tuhan pada saat berada di alam keabadian adalah kualitas hatinya. Semakin baik hatinya, maka kemungkinan besar manusia akan hidup bahagia selama-lamanya.

Lalu bagaimanakah sebenarnya kualitas hati yang baik. Hati yang baik adalah hati yang senantiasa berusaha menebarkan kebajikan bagi seluruh makhluk hidup. Jika kita hidup di Negara Indonesia, maka hati yang baik adalah hati yang berdasarkan Pancasila.

  1. Sebuah hati yang berketuhanan Yang Maha Esa,

  2. Hati yang berkemanusiaan yang adil dan beradan,

  3. hati yang senantiasa mendukung Persatuan Indonesia,

  4. hati yang mendukung kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan

  5. hati yang berkeadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Pada dasarnya, Tuhan sudah menitipkan pesan kebajikan dalam hati manusia melalui nurani . Hati nurani itulah sebenarnya filter yang membuat manusia tetap berada di jalan yang benar. Kita belum tahu apakah selama ini kita sudah mengikuti hati nurani atau sebaliknya. Kelak di alam keabadian semua itu akan terjawab dengan tuntas.

Tapi benarkah kita hanya akan tahu setelah berada di alam kematian. Tidak, kita bisa tahu sekarang juga. Dengan cara melihat kondisi bumi. Kondisi earth. Kondisi bumi seisinya adalah parameter kualitas hati manusia. Lhah kok bisa.

Bumi, sebagaimana yang kita ketahui adalah tempat tinggal sekitar 6 Milyar manusia. Di Bumi inilah manusia melakukan aktivitasnya. Mulai dari makan, minum, tidur, perang, belajar, nonton bioskop, beribadah, ngeblog, berjudi, melakukan korupsi dan milyaran aktivitas lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Jika bumi seisinya semakin hari semakin baik. Maka bisa dipastikan bahwa kualitas hati manusia penghuninya juga baik. Akan tetapi jika ternyata sebaliknya, maka kita perlu melihat ke dalam hati nurani masing-masing.

Itulah hubungan antara hati dan bumi. Jika hati manusia baik, maka bumi pun juga baik. Kok bisa, ya bisa saja.

sumber gambar : g8ors.blogspot.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »