Belajar Menjadi Jadul

Arif Rahmawan December 21, 2012


Penulis: Gus Lim & Arini Hidajati
Editor: Nisrina Lubis
Penerbit: DIVA Press
Tahun terbit: 2010
Harga: Rp. 25.000

 

Sore itu saya sedang berjalan-jalan di dalam toko buku Jendela Purwodadi. Di deretan rak buku tentang Jawa, di antara buku tentang primbon,  sejarah Jawa dan berbagai buku kebijaksanaan Jawa, saya menemukan sebuah buku unik berjudul Belajar Menjadi Jadul (Buku Cepat Baca yang Siap Menebar Kearifan Gaya Orang Jadul).

"Buku apa pula ini", bisik saya.

Saya merasa judulnya agak aneh. Sangat tidak populer. Ketika zaman bergerak ke arah kehidupan modern, justru ada sebuah buku yang sepertinya mengajak kembali ke masa lalu. Bagaimana mungkin manusia modern mau belajar menjadi jadul?.

Daripada semakin penasaran, saya memutuskan untuk membeli buku tersebut. Sesampainya di rumah, saya mulai membaca buku tersebut.

Ternyata memang benar, buku tersebut mengajak pembaca untuk mengetahui berbagai macam kearifan yang pernah ada pada masa lalu. Misalnya tentang bagaimana pola makan orang zaman dulu. Mereka makan dan minum apa adanya, makan bisa cuma dua kali sehari, pagi dan sore. Mereka makan dari tumbuhan yang mereka tanam sendiri. Tanpa menggunakan pestisida. Sehingga orang zaman dulu sehat-sehat. (halaman 17)

Atau tentang bagaimana orang zaman dulu melestarikan lingkungan. Orang-orang zaman dulu gemar menanam pepohonan dan hanya mengambil ranting yang jatuh untuk dadek geni di dapur. Mereka tidak mau merusak hutan, karena hutan adalah lingkungan di mana ia hidup. (halaman 23).

Bukan hanya itu, buku tersebut juga mencoba membandingkan kehidupan pada masa lalu dengan kehidupan pada masa sekarang.

Sebagai contoh tentang rumah orang zaman dulu. Rumah mereka selalu terbuka. Meskipun penghuninya pergi ke sawah, ladang atau pergi ke tempat ibadah.  Mereka tidak takut kehilangan, karena mereka tidak menyimpan barang berharga di rumah.

Hal ini berbeda dengan zaman sekarang. Rumah orang modern ditutup rapat, bahkan ditutup dengan pagar yang tinggi. Karena mereka takut kehilangan benda-benda berharga yang mereka miliki.

Selain beberapa hal di atas, kalian bisa membaca  banyak kearifan orang-orang zaman dulu yang jauh berbeda dengan kehidupan modern. Kearifan yang kini mulai luntur dihantam kebudayaan modern yang menghajar tanpa ampun.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »