Bulan yang Bergelantung di Langit Malam

Arif Rahmawan December 26, 2012

Malam ini langit kembali gelap. Tak ada bedanya dengan milyaran malam yang telah berlalu sebelumnya. Gelap yang akan selalu berdampingan dengan terang. Malam ini, bulanlah yang seharusnya mampu mengusir gelap. Tapi dia tak berdaya ketika awan hitam membungkus cahayanya hingga tak sampai ke bumi.


Sebenarnya bulan tak begitu peduli dengan semua itu. Dia merasa keberadaannya sudah tak begitu diperhatikan penduduk bumi terutama manusia.


moonviewjpg



sumber gambar



"Mereka telah melupakan aku", bisiknya ketika pada suatu malam dia bercahaya sangat terang. Bulan purnama. Namun sayang dia tidak melihat ada manusia yang keluar rumah untuk menikmati cahayanya. Hanya ada sekelompok kecil orang dengan teleskop menatap ke arahnya.


Bulan kecewa.


Dia teringat pada suatu masa ketika pertama kali dia memutuskan untuk menemani bumi yang sering termenung sendiri di jagat raya. Milyaran tahun yang lalu. Ketika bumi masih berusia sangat muda. Ketika manusia belum tinggal di bumi. Bahkan mungkin belum diciptakan.


Ketika mereka berdua bertemu. Bumi sering bercerita bahwa dia sedih, karena setiap malam hari, tubuhnya gelap. Meskipun pada sisi bumi yang lain terang, bumi ingin semua sisi tubuhnya terang setiap saat. Bumi juga merasa kasihan dengan makhluk-makhluk penghuninya.


Bulan terdiam sejenak. Kemudian bulan menawarkan diri untuk membantu bumi. Dia mendatangi matahari, dia katakan kepada matahari bahwa dia bersedia memantulkan sinar matahari agar bisa menerangi bumi saat malam hari. Matahari setuju. Tetapi matahari mengatakan bahwa bulan tidak bisa terus bercahaya saat malam hari. Bulan akan tampak bercahaya penuh setiap tiga puluh hari sekali. Selain hari itu bumi akan tetap gelap atau tetap menerima cahaya bulan tetapi tidak penuh.


Mulai saat itulah, bulan menerangi kegelapan di bumi. Bumi sungguh bahagia ketika malam-malam yang semula tertutup gelap, sejak saat itu bermandikan cahaya bulan. Sampai kemudian Tuhan menciptakan manusia.


Saat itu, ketika bulan menampakkan cahayanya, manusia-manusia itu sangat bahagia. Mereka menyambut cahaya bulan dengan berbagai macam kegiatan. Anak-anak mereka bermain di bawah cahaya bulan. Sedangkan para penyair, menuliskan keindahan cahaya bulan melalui syair-syairnya.


Semua umat manusia bergembira menyambut bulan. Saat itu.


Tapi kini, saat bercahaya penuh, bulan tak lagi melihat kebahagiaan terpancar dari manusia-manusia di bumi.


Sejak manusia semakin pintar menciptakan teknologi. Cahaya bulan tak lagi dirindukan anak manusia.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »