Tahun Baru Masehi dan Perayaannya

Arif Rahmawan January 01, 2013
Tahun Baru. Sebuah peristiwa pergantian tahun yang terjadi setiap 365 hari sekali. Sebagian masyarakat yang berada di kota atau masyarakat luar kota yang sengaja datang ke kota menyambut pergantian tahun tersebut dengan berbagai acara. Mereka meluapkan kegembiraan dengan cara meniup terompet atau dengan menyelenggarakan berbagai macam konser.

 

[caption id="attachment_1944" align="aligncenter" width="300"]Tahun Baru Tahun Baru[/caption]

Tepat jam 00:00 maka orang-orang  segera meniup terompet atau sekedar memberi ucapan selamat tahun baru kepada orang-orang di sekelilingnya.

Bisa dipastikan, seluruh sudut kota segera dipenuhi berbagai keriuhan yang berasal dari suara terompet atau suara knalpot kendaraan yang berlalu lalang.

Tak luput juga berbagai kawasan wisata, mulai dari pantai maupun pegunungan pun dipenuhi masyarakat yang ingin merayakan malam pergantian tahun.

"Tahun baru memang patut dirayakan", kata mereka. Benar juga, semua hal yang baru memang patut dirayakan. Rumah baru, hidup baru, umur baru, kendaraan baru, sekolah baru dan semua hal yang baru.

Begitu juga dengan tahun baru.

Sesungguhnya perayaan itu bukan karena tahun barunya, tetapi pada perayaan itu sendiri. Masyarakat yang merayakan, tak peduli apakah malam itu tahun baru atau bukan. Yang penting mereka bisa hura-hura, menyalakan petasan, membuat bising jalan raya dan mengadakan pesta. Hobi dan kesenangan mereka bisa dilampiaskan ketika kebetulan ada peristiwa pergantian tahun.

Ternyata tak semua masyarakat merayakannya.  Penduduk desa tidak mengenal ritual perayaan tahun baru masehi. Tidak terdengar mercon atau kembang api berbunyi di langit pedesaan. Saat tengah malam, langit tetap bersih dari kembang api.

Masyarakat desa di Jawa memang tak begitu tertarik dengan berbagai bentuk perayaan tahun baru masehi. Mereka hanya mengenal tahun baru jawa dan Islam. Hanya itulah tahun baru yang patut dirayakan. Perayaannya pun lebih ke arah laku prihatin bukan hura-hura.

Tapi seiring perkembangan zaman, dengan banyaknya penduduk desa yang bersentuhan dengan budaya kota yang serba berbau hedonisme. Tak menutup kemungkinan penduduk desa akan turut serta merayakan tahun baru dengan berbagai macam kebisingannya.

"Kan cuma setahun sekali", Mungkin seperti itulah jawabannya ketika ada orang yang mencoba mengingatkan untuk apa merayakan tahun baru.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »