Tentang Sishankamrata

Arif Rahmawan January 03, 2013
Setelah membaca buku Aku Hanya Tentara, saya teringat kembali saat masih aktif di organisasi Resimen Mahasiswa. Saat itu saya  mengikuti Pendidikan Dasar Kemiliteran, para guru militer seringkali mengingatkan tentang masalah pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia.  Pada lain kesempatan, saat berdiskusi dengan Komandan Kodim Solo, beliau juga memberikan gambaran tentang sistem pertahanan yang dianut bangsa Indonesia dan berbagai ancaman terhadap keutuhan bangsa Indonesia.

Sistem pertahanan yang digunakan bangsa Indonesia adalah sishankamrata, merupakan sistem pertahanan dan keamanan semesta yang artinya pertahanan secara menyeluruh terhadap bangsa Indonesia. Melibatkan komponen utama yaitu TNI dan komponen cadangan yaitu rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Adalah sistem Pertahanan Indonesia secara menyeluruh di wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia, Terhadap Wilayah Negara, Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya.

teruslah-berkibar-sang-saka-merah-putih

 

sumber gambar


 

Jadi ketika terjadi peperangan fisik mempergunakan senjata api, meriam ataupun bom, TNI menjadi pihak terdepan disusul dengan rakyat Indonesia. Lalu, jika negara dalam keadaan damai apa yang dilakukan TNI dan rakyat Indonesia?.

Memang benar saat ini sepertinya bangsa Indonesia tidak sedang berperang mempergunakan senapan, bom atau meriam melawan negara manapun. Tetapi ancaman dalam bentuk lain pasti ada di negara ini.

Untuk mengetahuinya marilah sejenak kita mengendarai mesin waktu pergi ke masa lampau bangsa Indonesia. Kita mulai dari awal mula bangsa penjajah datang ke Indonesia.

Kita perlu mengingat sejarah imperialisme yang dilakukan bangsa Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang terhadap Indonesia. Tujuan mereka menjajah konon dilandasi 3G : Gold, Gospel and Glory.

Saat itu mereka menjelajah ke berbagai pelosok dunia untuk memperluas wilayah mereka dan untuk menemukan dunia lain yang memiliki berbagai harta karun yang mereka butuhkan. Dengan mempergunakan kapal laut, mereka membelah ombak dan berkeliling ke berbagai belahan dunia.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan pun berlalu akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang sangat indah. Sebuah tempat yang memiliki laut yang kaya. Dari teropong yang mereka gunakan. Mereka melihat sebuah kawasan yang sungguh mempesona. Hutan yang hijau membentang.

Bangsa penjajah itu seakan menemukan surga di bumi yang baru mereka temukan itu. Alam raya yang sungguh indah membuat kaum penjajah itu terpesona. Mereka kemudian menepi. Lalu menancapkan jangkar kapal mereka di perairan itu. Bumi Nusantara .

Mereka berbondong-bondong turun dari kapal dengan membawa senjata dan segala perlengkapan untuk hidup permanen di bumi nusantara. Ternyata mereka tidak salah, mereka menemukan segala bentuk kekayaan alam: sumber tambang, sumber minyak dan tanah yang subur.

Dan mereka semakin bahagia ketika tahu bahwa keindahan alam yang baru mereka temukan hanya dihuni oleh sekelompok orang yang mungkin menurut mereka primitif. Lalu mereka mulai mengambil satu persatu kekayaan bangsa ini ke negeri mereka. Bukan hanya itu mereka mempekerjakan penduduk pribumi demi bangsa mereka. Tanpa upah yang memadai. Kerja paksa dan tanam paksa menjadi kehidupan sehari-hari penduduk pribumi setelah kedatangan bangsa asing itu. Kecuali pribumi yang sudi menjadi cecunguk asing.

Seiring berjalannya waktu, para penduduk asli ini mulai menyadari bahwa ternyata kekayaan bumi mereka secara perlahan-lahan dikeruk demi keuntungan bangsa penjajah. Upah yang mereka terima ternyata tidak sepadan dengan apa yang mereka kerjakan. Timbullah perlawanan terhadap para penjajah itu. Mereka berontak, menuntut keadilan. Sehari- sebulan, setahun perjuangan mereka tak pernah berhenti.

Selama berabad-abad leluhur bangsa ini berjuang demi melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan. Sejarah mungkin hanya mencatat nama-nama seperti Kapitan Patimura, Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dan pahlawan-pahlawan bangsa lainnya. Tetapi mungkin saja sebelum para pahlawan itu berjuang, telah ada ribuan orang-orang yang tidak rela diinjak-injak oleh kaum penjajah. Hanya saja nama mereka tak tercatat oleh sejarah.

Tidak hanya tokoh pria. Kaum wanita seperti Laksamana Malayahati, Cut Nya Dien, Christina Marta Tiahahu, Dewi Sartika dan  H. Rasoena Said mereka semua tak sudi tunduk di bawah kaki penjajah.

Waktupun berlalu, perjuangan tak kenal lelah selama berabad-abad yang dilakukan penduduk pribumi nusantara yang akhirnya bernama Indonesia ini, mencapai titik puncak ketika Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus  1945. Semua rakyat bersorak gembira. Dengan berani mereka mengusir para penjajah agar kembali ke negerinya.

Belanda dan Jepangpun berangsur angsur minggat dari bumi Indonesia. Mereka kembali ke negara masing-masing dengan bertekuk muka. Mereka geram, kekuasaan mereka akhirnya dikalahkan penduduk pribumi yang menurut mereka hanya orang-orang bodoh.

Dan penyesalan terbesar mereka adalah. Mereka tak lagi memiliki bumi subur nusantara. Dalam hati mereka mungkin berkata,  We Will be right back, Indonesia !. 

------#------


Puluhan tahun berlalu. Bumi Indonesia tetaplah subur. Kekayaan alam tetap melimpah ruah. Bahan tambang seakan tak pernah habis. Siapa yang tak ingin menghuni surga dunia seindah Indonesia.

Bangsa mana yang tak akan tergoda dengan semua itu. Mungkin negara-negara tetangga?. Atau mungkin negara Adikuasa Amerika Serikat ?. Atau mantan penjajah kita: Belanda, Inggris, Jepang maupun Portugis masihkah mereka berminat menguasai kekayaan bangsa ini?.

Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah, yang seakan-akan tidak habis ibarat gudang emas yang tidak dijaga dengan ketat oleh penduduk Indonesia. Sedangkan bangsa lain terus berusaha ingin mencuri emas itu tapi dengan cara yang sangat halus.

Bangsa-bangsa asing itu seandainya masih berminat untuk menguasai berbagai kekayaan alam di Indonesia tentu tidak akan menjajah dengan mempergunakan senapan atau meriam. Cara yang masih bisa dilakukan oleh mereka adalah dengan jalur perdagangan !. Atau dengan meminjamkan uang. Atau dengan menyebarkan virus-virus jahat kepada penduduk Indonesia. Atau dengan mengadu domba.

------#-----


Jadi apa tugas TNI dan rakyat Indonesia pada kondisi "damai" seperti ini?. Mereka dan kita semua bertugas menjaga gudang emas milik bangsa Indonesia yang kini sudah dicuri bangsa lain tanpa kita sadari. Dan keberhasilan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta tergantung kepada seluruh bangsa Indonesia, yaitu kita semua.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »