Awal Dari Sebuah Tragedi

Arif Rahmawan April 24, 2013
kapal belandaAlkisah, ada sebuah kerajaan nun jauh di sana. Kerajaan ini dihuni oleh jutaan orang berkulit putih, berambut pirang dan berhidung mancung. Kondisi kerajaan tersebut sangat memprihatinkan. Miskin dan banyak hutang.

Kondisi ini membuat Ratu dan seisi kerajaan pusing tujuh keliling, mereka sudah putus asa menghadapi kemiskinan yang menjerat kerajaannya.

Hingga akhirnya ketika mereka sedang berkumpul di kerajaan. Datanglah seorang pemuda yang membawa sebuah gulungan kulit.

Pemuda itu bercerita bahwa dia baru saja menemukan sebuah peta yang didapat dari kerajaan tetangga. Peta tersebut berisi tentang adanya sebuah pulau yang menyimpan harta karun yang bisa membuat mereka kaya raya.

Demi menerima informasi seperti itu, sang Ratu dan punggawa punggawanya girang luar biasa. Seketika mereka berteriak.

Zuppeeerrr sekaaliii !

Dahsyat !

Luar Biasa !!

Wajah mereka yang semula kusam, tiba-tiba berubah cemerlang.

Secara spontan Sang Ratu berteriak memanggil panglima perang.

"Segera cari pulau yang diceritakan dalam peta tersebut, bawa armada perang lengkap dengan senjata terhebat !

"Dan ingat, jangan pulang sebelum padam !"

"eh salah, maksud saya jangan pulang sebelum kalian menemukan harta karun"

Sang Panglima yang perutnya gendut dengan tegas menerima perintah Sang Ratu.

"Siap laksanakan, kami akan melaksanakan tugas dengan baik !"

Singkat cerita, dengan diiringi lambaian tangan seluruh penduduk kerajaan, dimulailah petualangan memburu harta karun di negeri antah berantah.

Dengan mengendarai 5 kapal, yang masing-masing terdiri dari tiga ratus awak, armada yang berisi sekelompok pemburu harta karun itu memulai petualangan, membelah luasnya samudera, mencari kehidupan yang lebih baik.

Tetapi perburuan pulau impian tak semudah yang mereka bayangkan. Hari demi hari, siang berganti malam, malam berganti siang, bulan demi bulan berlalu tanpa terasa. Pulau impian yang mereka buru tak kunjung mereka temukan.

Keadaan ini menyebabkan timbulnya konflik. Di dalam setiap kapal, terbentuklah dua kelompok. Kelompok pertama, mereka yang sudah merasa lelah dan minta pulang. Sedangkan kelompok kedua, tetap bersikukuh untuk melanjutkan perjalanan. Konflik ini bahkan hampir berujung pada peperangan di antara mereka.
Tetapi, ketika kedua kelompok tersebut sudah hampir mengokang senjata. Setiap komandan sudah hampir meneriakkan aba-aba serang, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dari seorang awak kapal yang bertugas mengintai situasi yang dilalui dan akan dilalui oleh kapal.

Dengan terengah-engah dia berdiri di antara dua kelompok yang siap bertempur

Hentikan !
hentikan hentikan pertikaian kalian !

Tangan kanannya memegang teleskop, sementara telunjuk tangan kirinya menunjuk ke sebuah arah.
Pulau yang kita cari sudah terbentang di depan kita !

Secara serentak kedua pasukan tersebut merapat di belakang sang awak. Mereka berebutan mengambil teleskop dari tangan sang awak.
Satu persatu mereka melihat ke arah yang ditunjukkan sang awak. Dan setiap kali mereka selesai melihat dengan menggunakan teleskop, raut wajah mereka berseri-seri, matanya berbinar-binar.

AKhirnya, kita menemukan pulau impian !

Konflik pun usai, semua bergembira. Secara bersamaan, kelima kapal tersebut merapat ke pulau impian tersebut. Jangkar-jangkat tertancap.

Berangsur-angsur kapal mendarat. Semua awak kapal tak sabar untuk segera turun dari kapal. Tetapi sesuai peraturan, Panglima perang yang harus turun terlebih dahulu.
Dengan langkah tegap dia menuruni tangga yang menghubungkan kapal dengan daratan. Semua mata memandang ke arah Sang Panglima.
Dan, akhirnya kaki panglima perang menginjak pulau impian.

Bumi Nusantara.

Dan pijakan kaki sang panglima di bumi Nusantara menjadi awal dari sebuah tragedi yang memilukan bagi sang penghuni pulau.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »