Batu Baterai

Arif Rahmawan April 13, 2013
Seandainya saya membatin Alhamdulillah pada setiap detik waktu kehidupan saya atau mengucapkan matur nuwun Gusti pada setiap hembusan nafas, niscaya semua itu tak akan mampu membalas nikmat yang diberikan oleh Allah. Bahkan seandainya seluruh umat manusia yang hidup dan pernah hidup di bumi Indonesia ini memanjatkan rasa syukur sesuai agama dan keyakinannya, saya yakin semua itu juga tidak akan mampu membalas nikmat yang dilimpahkan Allah kepada manusia Indonesia.

Mengucap Alhamdulillah atau puji syukur kepada Tuhan memang tidak bermaksud untuk membalas  nikmat yang telah diberikan oleh Beliau. Tindakan tersebut hanya sebagian kecil dari ekspresi syukur umat manusia. Selain mengucap atau membatin, masih ada ribuan jalan untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia di Indonesia.

Manusia Indonesia mendapat limpahan nikmat yang tak terkira-kira dari Allah. Allah nyah nyoh kepada manusia Indonesia. Semua yang dibutuhkan untuk hidup berbahagia di dunia diberikan-Nya kepada kita semua.

Kehidupan di desa, membuat saya sedikit memahami bahwa bumi Indonesia memang bumi yang istimewa. Tanah yang kita pijak, bisa kita tanami apa saja. Padi, jagung, sayur-sayuran, buah dan segala bentuk tumbuh-tumbuhan. Udara segar yang kita hirup setiap detik atau air yang seperti keluar dari bebatuan di gunung menghapus dahaga kita. Semua itu adalah sumber energi dan sumber kehidupan bagi kita semua.

baterai (1) (1)Jika manusia diibaratkan robot mainan, maka semua energi kehidupan tersebut adalah baterainya. Air, api, tanah dan udara semua itu adalah baterai bagi manusia. Dengan semua itu manusia Indonesia bisa hidup bahagia bersama keluarga dan orang orang yang dicintai. Kita semua bisa melakukan smua hal tersebut karena Allah menyediakan batu baterai bagi kita semua, manusia Indonesia.

Batu baterai itu memungkinkan kita untuk  bangun tidur, sarapan, tertawa bahagia, bersekolah, menggapai cita-cita atau berangkat kerja.

Ya, batu baterai itu membuat kita mampu bekerja keras meraih cita-cita, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi masa depan. Masa depan yang gemilang.

Tetapi tanpa kita sadari, kesibukan hidup membuat kita lupa bahwa sebenarnya kita hanyalah robot mainan yang sumber energinya adalah batu baterai. Kita lupa bahwa suatu saat nanti batu baterai itu tidak akan bisa di-charge lagi. Oksigen akan habis, air akan musnah, udara tak akan ada lagi.

Semua orang tentu berharap memiliki anak cucu, cicit yang entah sampai ke berapa generasi. Semua tentu berharap anak cucunya bahagia dan selalu bergembira. Tapi apakah semua itu bisa terwujud jika saat ini kita tetap membiarkan hutan rusak, sumber air tercemar, udara kotor di mana-mana. Apa semua itu bisa terwujud jika tanah tempat kita berpijak tak lagi mampu menumbuhkan tanaman.

Apa mungkin semua itu bisa terwujud apabila kita tetap menyuburkan korupsi dan suap. Konon, untuk memperoleh pekerjaan, kita harus menyuap ratusan juta rupiah. Jika suap ini dibiarkan, justru anak cucu kita kelak yang akan sengsara, bukan tidak mungkin mereka kelak mereka butuh milyaran rupiah untuk menyuap.

Maka mari kita jaga batu baterai agar anak cucu kita kelak tetap bisa menghirup udara segar, air yang jernih, tanah yang subur dan tak perlu menyuap hingga milyaran rupiah demi kupon.

Kita kelola tanah agar tetap menumbuhkan tumbuhan, kita jaga sumber air, kita jaga udara agar tetap bersih. Semua itu adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga dengan baik. Jangan sampai apa yang tertulis dalam Surat dari tahun 2070 menjadi kenyataan. Menjaga batu baterai titipan Allah itulah esensi syukur.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »