Di Bawah Kibaran Merah Putih Biru

Arif Rahmawan April 30, 2013
Bendera BelandaSejak kedatangan tamu tak diundang, kehidupan penduduk pulau impian berubah drastis. Kehidupan masyarakat yang semula penuh dengan kedamaian dan ketenangan, kini berubah menjadi kengerian yang tak terkira.

Hari demi hari hanya berisi perlakuan keji dari sang penjajah. Di bawah kekejaman bangsa penjajah, penduduk pulau impian harus rela melakukan apa saja yang dikehendaki sang penjajah. Tanam paksa,  kerja keras tanpa upah dan pembayaran pajak yang tidak masuk akal. Mereka menjadi budak di negeri sendiri. Budak dari para penjajah.

Secara semena-mena sang penjajah memberlakukan kewajiban tanam paksa bagi penduduk pulau impian. Penduduk dipaksa menanam rempah-rempah, dan hasil pertanian tersebut dibawa ke kerajaan mereka yang terletak di benua Eropa.

Semua kaum pria yang berada di desa dikumpulkan di sebuah tempat, kemudian mereka digiring ke ladang rempah-rempah yang sudah ditentukan oleh penjajah. Jarak antara desa dengan ladang terkadang sangat jauh, dengan waktu tempuh berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Mereka harus meninggalkan kampung halaman demi mengikuti kemauan bangsa penjajah. Jika sudah dibawa ke ladang rempah-rempah, maka pupus sudah, tak ada lagi harapan untuk bisa kembali ke kampung halaman mereka.

Air mata, keringat dan darah tertumpah setiap hari akibat keserakahan sang penjajah.

Tamu tak diundang yang pada saat kedatangannya pertama kali disambut dengan ramah telah menikam penduduk pulau impian. Kebaikan hati penduduk telah disalahgunakan oleh sang penjajah.

Apakah yang menyebabkan sang penjajah begitu kejam terhadap penduduk pulau impian?

Kekayaan alam yang melimpah ruah telah membutakan mata sang penjajah. Ketika mereka menemukan harta karun yang melimpah di pulau impian, timbullah hasrat yang membara untuk menguasai semua kekayaan alam di pulau impian. Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa ternyata pulau impian hanya dihuni oleh orang-orang primitif.

Ya, penduduk yang lugu dan jujur justru dianggap primitif oleh sang penjajah. Di mata sang penjajah, penduduk pulau impian adalah golongan manusia kelas bawah yang tak berarti di mata mereka. Penduduk pulau impian hanya dianggap sekelompok manusia dengan kebudayaan rendah. Bahkan dianggap manusia tak berbudaya.

Selama tinggal di pulau impian, sang penjajah tak hanya takjub dengan adanya rempah-rempah, tetapi mereka terkejut karena ternyata pulau impian benar-benar merupakan pulau ajaib. Bukan hanya tanahnya yang subur atau alamnya yang sungguh indah, ternyata pulau impian benar-benar menyimpan harta karun berupa tambang dan kekayaan laut yang melimpah.

Peta yang menjadi petunjuk adanya harta karun ternyata hanya menunjukkan sebagian kecil harta karun di pulau impian. Dan ketika mereka kembali membuat peta hasil tambang di pulau impian, hasilnya sungguh mencengangkan. Peta tambang pulau impian sepanjang 14 meter. Itu hanya dari satu pulau, Pulau Jawa.

Atas nama keserakahan, penindasan demi penindasan dilakukan setiap hari oleh sang penjajah selama 350 tahun bahkan lebih..

sumber gambar : http://universal.hermantan.com/2010/06/ironis-bendera-belanda-dan-jepang.html#comment-form

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »