Elegi Hujan

Arif Rahmawan April 21, 2013
hujanHujan belum sepenuhnya reda, tetes-tetes air masih jatuh dari awan, menimbulkan bunyi tik tik ketika jatuh menimpa atap rumah. Saya cukup lega,  kali ini hujan tak turun terlalu deras seperti kemarin. Sore itu, hujan  turun dengan deras selama berjam-jam,  menyisakan banjir.

Kali Lusi, sebuah sungai terbesar di Grobogan tiba-tiba meluap, tak mampu menampung limpahan air yang datang dari kabupaten tetangga. Luapan airnya menggenangi permukiman penduduk, memenuhi jalan raya di berbagai tempat di sekitar kali Lusi.

Hamparan padi di sawah pun tenggelam selama kurang lebih dua hari, menyisakan derita bagi para petani.

Di tempat lain di pusat modernisasi Indonesia, kota Jakarta pun telah terlebih dahulu menjadi langganan banjir.

Belum lagi banjir yang melanda akibat meluapnya sungai Bengawan Solo yang membentang dari Jawa Timur sampai ke Jawa Tengah.

Hujan, yang kedatangannya sangat ditunggu para petani dan seringkali menjadi inspirasi bagi para penyair dan penulis kini menjadi sumber kecemasan baru bagi sebagian masyarakat di negeri ini, termasuk masyarakat kabupaten Grobogan. Tiap kali mendung menggelayut, raut wajah manusia Grobogan berubah sendu. Jangan-jangan banjir datang lagi.

Siapakah yang telah mengubah fitrah hujan, yang seharusnya menjadi rahmat ternyata justru menyebabkan bencana bagi manusia, sang khalifah di muka bumi?

Siapakah yang bersalah?

Sebagai khalifah, beranikah manusia memikul tanggung jawab terhadap terjadinya bencana banjir.  Atau menyalahkan makhluk lain seperti pepohonan, air, kambing, sapi, bebatuan, alam atau justru saling melempar tanggung jawab di kalangan khalifah itu sendiri?

sumber gambar : earthy-moony.blogspot.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »