Kopassus Melawan Bandit

Arif Rahmawan April 08, 2013
[caption id="attachment_2068" align="alignleft" width="300"]Ilustrasi Kopassus Ilustrasi Kopassus[/caption]

Kopassus melawan bandit. Begitu kira-kira media menggiring opini semua lapisan masyarakat. Begitulah yang tampak di permukaan. Begitulah yang tertancap dalam benak kita semua. Lalu benarkah itu yang terjadi? saya juga tidak tahu.

Tetapi di media sosial yang bernama facebook, pendapat masyarakat telah terbelah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, mendukung langkah oknum Kopassus, dengan alasan karena yang dieksekusi  adalah bandit. Di sisi lain, ada pihak yang menyayangkan tindakan oknum Kopassus dengan alasan melanggar hukum.

Saya tidak akan mengajak anda untuk memihak kelompok yang mana. Sebagai rakyat jelata yang menerima informasi hanya melalui media, tak ada yang bisa dilakukan selain menemukan hikmah dari semua peristiwa itu. Meminjam apa yang pernah dikatakan oleh Cak Nun pada sebuah acara diskusi Bangbang Wetan. Beliau mengatakan, jika ada musibah kebakaran atau banjir, pernahkah anda menyalahkan api atau airnya?. Sambil memadamkan api dan membersihkan sisa sisa air, sebagian besar orang pasti mencari penyebab mengapa bisa terjadi kebakaran, mengapa bisa terjadi banjir. Bukan air dan apiny yang disalahkan. Api dan air adalah akibat dari sebuah sebab, dua buah sebab, atau berapapun sebab. Penyebab banjir bisa karena hujan yang sangat deras, sistem drainase yang jelek. Atau penyebab kebakaran bisa karena arus pendek, kompor dan lain-lain.

Begitu juga dengan tragedi "Qishos" yang dilakukan oleh oknum Kopasssus Kartasura, semua itu sebenarnya hanya akibat dari berbagai sebab yang terakumulasi dan bertemu di satu titik. Oknum Kopassus tersebut adalah air dan api. Silahkan cari sendiri apa penyebab dari semua itu. Apakah dari para bandit, Kepolisian, TNI atau dari negara ini. Selain itu, anda juga perlu mencari air dan api lain yang ada di negara ini. Misalnya tragedi korupsi yang sepertinya akan menenggelamkan dan membumihanguskan negeri ini.

Sekarang kita kembali ke peristiwa Kopassus melawan bandit. Saya benar-benar berharap bahwa inilah sebenarnya yang terjadi. Jika dalam sebuah pasukan, kejahatan ditempatkan di sebelah kiri, dan kebenaran di sebelah kanan, banyaknya dukungan dari masyarakat terhadap apa yang telah dilakukan oleh Kopassus bisa menjadi pendorong bagi Kopassus untuk semakin tegas berada di sebelah kanan. Bersama-sama rakyat melawan kriminalitas. Melawan kriminalitas juga merupakan bagian dari fungsi Pertahanan TNI. Melawan kriminal adalah fardu ain bagi siapapun, apalagi Kopassus. Kita sudah mengetahui bagaimana prajurit-prajurit Komando dengan gagah berani menjadi relawan bencana di Indonesia, mulai dari pencarian korban Sukhoi sampai relawan Merapi. Jika Kopassus dengan ikhlas dan sukarela menjadi relawan berbagai bencana alam  di Indonesia, maka tak ada alasan bagi Korps Baret Merah untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap kriminalitas. Karena sejatinya kriminalitas adalah juga bencana kemanusiaan. Kriminalitas adalah musuh bersama.

Jika kita menengok ke masa lalu. musuh yang dihadapi oleh bangsa ini jauh berbeda, di mana kita dengan mudah mengetahui siapakah musuh kita. Pada masa sekarang, musuh kita tak jelas. Tetapi, sebagai rambu-rambu, harus kita tanamkan dalam benak, bahwa kedatangan bangsa penjajah adalah untuk menguasai kekayaan alam bangsa ini. Maka, segala bentuk usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang dan juga bangsa asing untuk menguasai kekayaan alam, pada dasarnya adalah penjajahan. Inilah yang harus dihadapi oleh rakyat dan TNI. TNI tidak mungkin bekerja sendiri tanpa rakyat.

akhir dari tulisan ini adalah harapan dari rakyat biasa seperti saya, seperti yang juga pernah disampaikan Cak Nun kepada Komandan Grup 2 Kopassus Letkol (Inf) Suhardi  pada acara Mocopat Syafaat di Yogyakarta. Kita berharap bahwa TNI khususnya Kopassus akan semakin kuat mempertahankan NKRI, dan rakyat juga yang mengontrol jangan sampai kekuatannya digunakan untuk menindas rakyat.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »