Nasionalisme yang Berlandaskan Cinta

Arif Rahmawan April 11, 2013
teruslah-berkibar-sang-saka-merah-putihKonon, Swiss adalah salah satu negara teraman di dunia, saking amannya banyak petinggi negara Indonesia yang menyimpan kekayaannya di berbagai bank di negara tersebut. Konon juga, Swiss adalah negara yang memiliki jumlah angkatan perang yang sangat kecil. Dari 8 juta jumlah penduduknya, Swiss hanya memiliki tentara aktif berjumlah 5000 orang. Lalu bagaimana bisa Swiss disebut negara aman, jika memiliki jumlah tentara sekecil itu?.

Ternyata, meskipun jumlah tentara aktifnya sangat kecil, tetapi semua warga negara Swiss harus mengikuti wajib militer. Setelah selesai, mereka harus membawa pulang semua perlengkapan yang didapat selama wajib militer, termasuk senjata. Hal ini menyebabkan setiap warga negara memiliki senjata standar tempur semacam M16 dan M4. Senjata tersebut tidak begitu saja disimpan di rumah, penduduk Swiss wajib mengikuti berbagai latihan untuk meningkatkan kemampuan menembak mereka. Semua penduduk Swiss adalah warga sipil yang menguasai strategi militer. Mereka warga sipil yang  terlatih. Dengan kata lain, semua warga negara swiss adalah tentara.

Itulah jawaban dari pertanyaan di atas.

Lalu bagaimana jika semua peraturan itu diterapkan di Indonesia?. Seperti Wajib militer, kepemilikan senjata atau latihan perang bagi penduduk sipil?.

Jika pertahanan negara Swiss diibaratkan sebuah bangunan, berbagai peraturan tersebut adalah atap atau dinding dari sebuah rumah. Atap dan dinding berfungsi sebagai pelindung apa saja di dalamnya. Sebelum membangun atap atau dinding, harus dibangun fondasi yang kuat. Swiss sudah membangun fondasinya selama beratur-ratus tahun.

Apabila Pemerintah Indonesia ingin mengikuti jejak negara Swiss, dia tidak bisa begitu saja meniru pembangunan atap atau dinding tanpa membangun fondasi yang baik. Tanpa itu atap atau bangunan justru bisa runtuh.

Saat ini, Indonesia tidak mungkin menerapkan wajib militer dan memberikan kebebasan kepemilikan senjata bagi penduduk Indonesia. Mengingat kita belum memiliki fondasi yang kuat untuk itu semua. Saya sebagai rakyat jelata tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya ketika setiap warga memiliki M-16 atau AK47. Mahasiswa ke kampus dengan menenteng AK-47. Di Poskamling, bapak-bapak berlomba bongkar pasang M-16. Para pelajar membawa FN di tasnya. Sungguh Kondisi bangsa saat ini tidak memungkinkan untuk hal tersebut.

Penduduk bangsa ini belum memiliki pemahaman yang sama tentang arti berbangsa dan bernegara. Masih banyak penduduk yang belum rela menjadi warga negara Indonesia, kita belum yakin bahwa bendera kita adalah merah putih.

Pembangunan fondasi yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah membangun nasionalisme yang sejati, nasionalisme sesungguhnya, nasionalisme hakikat bukan hanya nasionalisme syariat. Mengibarkan merah putih di dalam dada, bukan hanya di depan rumah, di dalam laut atau di puncak gunung.

Fondasi yang kuat membutuhkan bahan yang baik juga. Begitu juga membangun fondasi nasionalisme. Di Indonesia sudah tersedia berbagai bahan istimewa : keragaman budaya, keragaman bahasa, suku bangsa yang berbeda-beda bahkan perbedaan agama dan keyakinan. Semua itu adalah bahan istimewa yang dianugerahkan Tuhan bagi bangsa Indonesia. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah pengikat dari semua anugerah Tuhan itu, yaitu cinta.

Dengan cinta itu kita berusaha selalu berbuat baik kepada kedua orang tua kita, anak, tetangga dan siapapun termasuk alam semesta. Dengan cinta itu pula kita tak akan tega menyakiti hati orang lain, kita tak akan tega merusak hutan, merusak lingkungan. Kita juga tak akan melanggar lampu merah meskipun tidak ada petugas.

Seandainya secara tak sengaja melanggar dan terpaksa ditilang, kita juga tidak akan mencoba menyuap petugas. Justru kita bilang ke Pak Polisi, “Silahkan tilang saya pak, saya memang bersalah”. Sambil tersenyum, Pak Polisinya berkata, “Bapak tidak marah, kalau saya tilang?”. “Tidak apa-apa, please silahkan tilang saya pak,”, kita menjawab sambil memohon. Di luar dugaan, sambil memasukkan surat tilang, Pak Polisi berkata,” karena bapak ikhlas ditilang, silahkan bapak pergi, hati-hati di jalan ya pak, dan ini ada uang saku buat bapak”.

Betapa indahnya kalau semua itu benar-benar bisa terjadi, baik Polisi maupun warga berlomba-lomba menebarkan cinta, kebaikan sekaligus menaati peraturan.

Cinta membuat kita tak sudi melakukan korupsi, kolusi maupun nepotisme atau berbagai bentuk kejahatan lain yang menindas hati nurani.

Sebagai pemimpin bangsa, mereka juga tak akan tega hidup bermewah-mewah sementara rakyatnya harus berjuang keras mencari makan.

Maka, yang dibutuhkan oleh rakyat adalah pemimpin yang memiliki cinta kepada Tuhan, tanah air dan rakyat Indonesia. Pemimpin ini mampu menerapkan cintanya dalam bentuk kebaikan kepada rakyatnya. Ketika pemimpin ikhlas memberikan cintanya, rakyat pun akan membalasnya.

Jika semua fondasi nasionalisme yang dibangun dengan ikatan cinta tersebut berhasil diwujudkan, barangkali hasilnya akan jauh lebih baik dari negara Swiss atau negara manapun. Jika fondasi sudah kuat, kita bisa membangun sistem pertahanan semesta sebaik-baiknya.

Rujukan :

http://archive.kaskus.co.id/thread/1497718/100

http://www.thedjokosusilo.org/2012/02/sistem-pertahanan-semesta-di.html

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »