Radya Pustaka

Arif Rahmawan April 07, 2013
radyaLengang. Seperti itulah suasana ketika saya memasuki Museum Radya Pustaka, sebuah museum tertua di Indonesia yang didirikan pada tanggal 28 Oktober 1890. Terletak di kompleks Sriwedari,  jalan Slamet Riyadi Surakarta. Saat itu hanya ada beberapa orang yang berkunjung di bangunan kuno peninggalan Belanda tersebut.

Hari itu, Minggu 31 Maret 2013, setelah berenang di kolam renang Tirta Bhirawa Yudha Kopassus,  saya bersama tiga orang teman berkunjung ke Museum tertua di kota Solo tersebut. Tujuan kunjungan itu untuk mengetahui sekelumit sejarah masa silam bangsa Indonesia, khususnya suku Jawa.

Untuk masuk ke dalam Museum Radya Pustaka, semua pengunjung wajib membeli tiket dengan harga perorang lima ribu rupiah. Jika anda membawa kamera, anda harus membayar lagi lima ribu rupiah.

Setelah menerima tiket, saya melangkahkan kaki memasuki pintu besar yang terletak di tengah bangunan, membagi ruangan menjadi kiri dan kanan. Memasuki ruangan pertama di museum ini, kita disambut dengan sebuah patung pujangga besar Raden Ngabehi Ronggowarsito. Di dekat patung tersebut terdapat sebuah meriam bernama meriam Lela, merupakan meriam yang lebih kecil daripada meriam tempur, biasa digunakan untuk upacara kerajaan.

Di ruangan depan ini juga terdapat berbagai koleksi wayang kulit, mulai dari Wayang purwo atau Wayang purwa, sebuah wayang yang bercerita tentang kisah Pandawa dan Kurawa, Mahabarata dan Ramayana. Ada juga Wayang gedhog, wayang kulit yang menceritakan kisah sejak Sri Gatayu, Putera Prabu Jayalengkara sampai masa Prabu Kuda Laleyan. Selain itu ada juga Wayang Klitik atau wayang Krucil,  umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit.

Dari berbagai jenis wayang tersebut, barangkali yang paling populer di Jawa Tengah adalah Wayang Purwa. Wayang yang bercerita tentang Pandhawa dan Kurawa ini, oleh sebagian orang diyakini merupakan kejadian nyata di tanah Jawa. Arjuna itu nyata, Puntadewa itu nyata, Parikesit itu nyata. Panakawan itu juga nyata. Artinya mereka benar-benar merupakan leluhur masyarakat Jawa. Sebagai contoh, Kerajaan Astinapura berada di Kediri, Kyai Semar konon masih hidup dan berada di Lembah Tidar. Sementara tokoh-tokoh seperti Prabu Parikesit, Begawan Abiyasa pertapaanya berada di Puncak Rahtawu, Kudus.

Pendapat yang sangat berbeda, mengatakan bahwa tokoh-tokoh yang ada di wayang tersebut memang nyata tetapi berasal dari India. Pandawa, Kurawa, Ramawijaya, Anoman, Alengka semua berasal dari India. Kerajaan Alengka kini bernama Srilanka. Jembatan batu yang dibangun prajurit Ramawijaya untuk menyerang Alengka konon hingga kini masih ada, bernama Adam’s Bridge. Versi lain, bahkan ada yang mengatakan bahwa perang Bharatayuda merupakan perang nuklir di India.

Selain kedua versi di atas, ada juga masyarakat yang beranggapan bahwa cerita wayang adalah dongeng belaka alias fiksi.

Kembali ke museum, selain koleksi wayang, di Radya Pustaka juga terdapat koleksi arca, topeng, barang antik, keris, pedang, bedil, mesin ketik kuno, gamelan, pakaian adat jawa dan berbagai benda unik lain.

Juga terdapat koleksi buku-buku kuno yang bisa dibaca secara langsung. Saat itu saya mencoba mencari sebuah buku yang sempat menuai kontroversi, yakni Serat Darmogandul. Sebuah serat yang menceritakan tentang kemarahan Sabdopalon dan nayagenggong terhadap Prabu Brawijaya. Kebenaran dari cerita ini sendiri masih merupakan polemik hingga sekarang.

Saya berada di dalam Museum Radya Pustaka, selama kurang lebih dua jam. Ketiadaan referensi membuat saya tidak begitu menikmati koleksi yang berada di museum tersebut. Banyak hal yang bisa saya lihat tapi tidak bisa saya pahami.

Di blog ini, saya tidak bisa bercerita lebih leluasa, mengingat keterbatasan pengetahuan. Padahal sebelum memasuki sebuah museum, kita perlu mempelajari sejarah terlebih dahulu. Mengunjungi sebuah museum ibarat berkelana ke masa lalu, sedangkan menguasai teori sejarah adalah ibarat peta. Jika kita tak menguasai sejarah, sama saja kita tersesat tanpa peta di ruangan masa lalu bernama museum.

Kita juga bisa membawa seorang teman atau pemandu yang menguasai sejarah. Karena belum tentu di museum ada pemandu yang bersedia menjelaskan setiap benda yang terdapat di museum. Bisa juga kita membentuk semacam kelompok diskusi tentang sejarah. Tanpa itu semua, kunjungan ke museum tak akan berarti apa-apa.

rujukan :

http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Radya_Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »