Tamu Tak Diundang

Arif Rahmawan April 27, 2013
tanam_paksa.25460411_stdTempat itu begitu indah. Dari sebuah pegunungan yang berhawa dingin, pandangan mata akan takjub dengan apa yang terpampang di bawahnya. Terbentang kawasan hutan rimba yang sangat memesona mata.

Di sudut lain, hamparan hijau tanaman cengkeh, lada dan vanili bagaikan gulungan karpet yang digelar. Di antara kebun-kebun tersebut mengalir aliran sungai yang berkelok-kelok bagaikan ular yang sangat panjang.

Di perkebunan itulah, penduduk di tempat itu melakukan kegiatan. Mereka sedang membersihkan rumput-rumput yang mengganggu tanaman mereka.

Kegiatan tersebut dimulai sejak pagi buta sampai matahari tepat di atas kepala mereka. Mereka sedang bertani rempah-rempah.

Di tempat lain, pada suatu siang di sebuah tempat yang mempertemukan antara daratan dan lautan, di sebuah pelabuhan terlihat ada lima kapal yang secara perlahan lahan mendekat ke daratan.  Kapal sang pencari harta karun.

Kemudian, satu persatu penumpang kapal tersebut turun. Sejenak mereka memandang ke tempat yang baru saja mereka temukan ini. Salah satu dari mereka membuka gulungan kulit. Lalu di atas tanah, gulungan tersebut digelar. Sambil manggut-manggut, orang tersebut memandang ke arah daerah di depan mereka.

Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menetap di tempat tersebut. Tetapi ketika mereka hendak mulai melangkah, mereka dikejutkan dengan kedatangan sekelompok orang yang sama sekali asing bagi mereka. Sekelompok orang yang terdiri dari sekitar 30 orang tersebut mendekat ke arah mereka.

Dengan ramah, pemimpin kelompok tersebut menanyakan kepada sang pemimpin yang baru datang tersebut.

"Ki sanak, dari mana ki sanak berasal dan ada keperluan apa sehingga ki sanak berada di tempat kami ini?'

Sang komandan pemimpin harta karun tampak kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh pemimpin kelompok.

Tetapi, singkat cerita kedatangan sang pencari harta karun diterima dengan baik oleh penduduk penghuni pulau impian tersebut.

Mereka bahkan diberi tempat untuk membangun permukiman di pulau tersebut. Selama beberapa bulan mereka berhasil membangun permukiman yang dihuni oleh seluruh rombongan pencari harta karun.

Selama di tempat itu pula mereka sudah melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan utama yang mereka lakukan adalah mencari di manakah sumber harta karun seperti yang tertulis di dalam peta mereka.

Mereka berkelana ke berbagai tempat di pulau impian tersebut, mereka juga menemukan kebun kebun lada, cengkeh dan vanili.

Pada awalnya, mereka bersikap ramah terhadap penduduk asli penghuni pulau impian tersebut. Mereka juga menyatakan untuk membeli lada, cengkeh dan vanili yang ditanam oleh penduduk pulau impian.

Selama beberapa bulan mereka berinteraksi dengan penduduk lokal, mereka menyimpulkan bahwa penduduk di pulau impian adalah orang-orang jujur.

Di sinilah, timbul niat jahat mereka, kejujuran penduduk pulau impian adalah celah untuk memperdaya mereka.

Akhirnya segala tipu muslihat pun dilakukan untuk menipu penduduk pulau impian.

Jika pada awalnya mereka hanya membeli hasil kebun, mereka merencanakan untuk membeli tanah penduduk pulau impian.

Tanpa curiga sedikitpun, penduduk pulau impian menerima pembelian tanah tersebut.

Tetapi, rombongan sang pencari harta karun ternyata menyimpan kebusukan dan kejahatan yang tiada terperi. Meskipun mereka sudah diizinkan untuk membeli tanah penduduk pulau impian, tetapi mereka tidak puas dengan semua itu.

Sang komandan pencari harta karun memutuskan untuk mengambil seluruh kekayaan alam penduduk pulau impian.

Dengan senjata yang mereka gunakan, mereka memaksa penduduk pulau impian untuk bekerja secara paksa menanam berbagai tanaman. Bahkan mereka tak segan-segan untuk membunuh penduduk pulau impian.

Demi menerima kenyataan pahit seperti ini, penduduk pulau impian tak berdaya menerima pengkhianatan yang begitu menyakitkan dari para pendatang.

Penjajahan telah dimulai oleh para tamu tak diundang.

sumber gambar : nurdinalbugizi.blogspot.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »