Bumi Tanpa Atmosfer

Arif Rahmawan May 05, 2013
Ada perbedaan yang sangat mencolok antara isi siaran televisi zaman dulu dan zaman sekarang. Yang saya maksud zaman dulu adalah siaran televisi pada era 90-an. Suatu zaman di mana kita merasa bahagia destroy_tvmelihat senyum manis Pak Harto melalui satu satunya stasiun televisi di Indonesia, yakni Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Selain TVRI, berangsur-angsur lahir stasiun televisi baru : RCTI, SCTV dan TPI. Pak Harto melalui Menteri Penerangan senantiasa mengatur secara penuh jenis-jenis acara yang boleh disiarkan di televisi. Segala bentuk acara televisi harus selaras dengan kepentingan Pemerintah Republik Indonesia. Tak akan pernah ada acara televisi yang bertentangan dengan kepentingan Pemerintah. Jika terpaksa ada, maka acara tersebut akan diakhiri. Suka atau tidak suka.

Seiring bergulirnya roda waktu, ada perubahan dalam isi siaran televisi. Semenjak Pak Harto turun pada peristiwa reformasi 1998, bertambahlah stasiun televisi baru di Indonesia.

Turunnya Pak Harto dan pertambahan stasiun televisi di Indonesia membawa perubahan radikal dalam sejarah pertelevisian di Indonesia. Jika semula acara televisi dikontrol secara ketat oleh Menteri Penerangan, sejak turunnya Pak Harto turun hal tersebut tidak berlaku lagi. Isi siaran televisi tidak ada lagi yang mengontrol. Bebas sebebas-bebasnya.

Pemilik stasiun televisi menganggap penonton adalah sumber penghasilan mereka. Mereka tak peduli apakah acara-acaranya layak ditonton oleh penonton anak-anak atau tidak. Bagi mereka, tidak ada pertimbangan baik dan buruk, tidak ada pertimbangan moral pada setiap tayangan televisi.

Jika pemerintah berani-berani mengatur isi siaran televisi di Indonesia maka pemerintah akan berhadapan dengan demokrasi. Pemerintah akan berhadapan dengan bebebasan pers, kebebasan perpendapat dan segala macam tetek bengek lainnya.  Akhirnya, pemerintah tak berdaya mengatur isi siaran televisi. Jikapun ada lembaga semacam Lembaga Sensor Film atau Komisi Penyiaran itu hanya semacam syarat, seolah olah lembaga tersebut mengontrol isi siaran televisi. Padahal sejatinya mereka tak memiliki keberanian untuk menyensor film ataupun acara-acara di televisi.

Yang terjadi kemudian, tidak ada lagi kontrol terhadap berbagai siaran televisi. Sinetron, acara musik, film, infotainment, debat dan lain-lain berlangsung bebas sebebas bebasnya.

Keberadaan siaran televisi tanpa kontrol ibarat bumi tanpa atmosfer.  Semua sinar ultraviolet, benda-benda langit jatuh ke bumi tanpa ampun. Membombardir segala yang ada di bumi.

Bukan hanya siaran televisi, tetapi segala informasi yang berasal dari semua media : koran, majalah, tabloid, radio dan yang paling radikal adalah informasi dari internet yang masuk tanpa kontrol.

Ironisnya, ketika pemerintah secara tegas bermaksud mengatur dan memblokir konten konten yang merugikan rakyat (meskipun tidak disadari oleh rakyat sendiri), pemerintah justru dihujat. Lagi-lagi disebut melanggar demokrasi, melanggar kebebasan dan lain-lain.

Maka ketika pemerintah sudah tidak mampu menjadi atmosfer bagi rakyat Indonesia, tak ada pilihan lain selain membangun atmosfer bagi diri sendiri. Membangun atmosfer dengan bahan kebudayaan dan kearifan lokal, agama dan kepercayaan. Atau apa saja yang bisa mendekatkan manusia dengan dirinya sendiri.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »