Korupsi Bisa Dihentikan Hanya Jika Rakyat Menghendaki

Arif Rahmawan May 14, 2013
Korupsi tidak lahir begitu saja. Ada penyebab mengapa korupsi di negeri yang Berketuhanan yang Maha Esa bisa tumbuh subur hingga hari ini. Korupsi yang terjadi di berbagai instansi pemerintah atau di manapun menjadi sebuah hal yang wajar.

Ada banyak faktor mengapa seorang pejabat yang semula terlihat sangat religius tiba-tiba kehilangan sisi kemanusiannya dengan merelakan dirinya menjadi seorang koruptor.

Tetapi ada faktor yang sangat berperan dalam budaya korupsi. Yakni rakyat Indonesia. Kali ini saya ingin mencontohkan dengan tradisi suap yang dilakukan oleh calon kades.

Saya kira wajar, apabila ada seorang Kepala Desa melakukan korupsi. Mengapa wajar?

Kita harus mundur beberapa langkah, yaitu pada saat sang Kepala Desa masih berstatus sebagai calon Kepala Desa. Saat itu, sang calon melakukan berbagai cara untuk menarik simpati masyarakat agar mereka bersedia memilihnya pada saat acara pencoblosan. Cara yang paling lazim dilakukan adalah mencoba menebar kebaikan dan mengumbar janji janji perbaikan desa. Apakah hanya cukup itu? Ternyata tidak. Semua kebaikan dan janji-janji tersebut hanya dianggap angin lalu oleh rakyat.

Sang calon bukannya tidak tahu, dia sadar sepenuhnya akan hal ini. Maka dilakukanlah perbuatan yang sesungguhnya melanggar kesepakatan bersama yakni politik uang. Uanglah yang membuat rakyat masyarakat desa terpikat.

Pada saat tersebut, masyarakat telah mengeksploitasi dan "memeras" para calon. Mereka-entah sadar atau tidak telah memulai siklus korupsi yang ujung-ujungnya justru merugikan mereka sendiri sampai ke anak cucu.

Suap, sogok atau apapun namanya yang dilakukan oleh calon Kades kepada rakyat sebenarnya adalah legitimasi rakyat terhadap apapun perbuatan yang nanti akan dilakukan oleh Kades terpilih termasuk korupsi. Bukan pula semata-mata kesalahan calon kades.
Rakyat secara sukarela telah menjual suaranya dan menjual masa depan desanya dengan uang puluhan ribu rupiah. Mereka memaksa calon kades untuk mengeluarkan modal yang sangat besar. Setelah terpilih, Kades tentu saja hanya akan berfikir bagaimana caranya mengambil kembali uang yang telah dibagikan kepada rakyat.

Tidak mungkin sang kades mengambil secara langsung. Tidak mungkin mereka nithili siji mbaka siji uang yang sudah mereka bagikan. Cara yang paling mudah bagi mereka adalah mengkorupsi apa saja yang bisa dikorupsi. Mencuri apa saja yang bisa dicuri. Perilaku semacam ini bisa diperluas dalam ruang lingkup yang lebih besar.

Jika memang perilaku itu yang dikehendaki oleh rakyat. Atau rakyat merasa nyaman dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sarat dengan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh para pemimpinnya, maka silahkan saja teruskan siklus suap menyuap di segala lini kehidupan.

Tetapi jika rakyat ingin memutus mata rantai korupsi, silahkan tolak dan jangan mau menyuap atau disuap.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »