Jejak Tinju Pak Kiai

Arif Rahmawan June 28, 2013
Jejak Tinju Pak KiaiJudul: Jejak Tinju Pak Kiai
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2008.
Tebal: 258 Halaman

Apa yang sedang dilakukan Cak Emha Ainun Nadjib hingga hari ini merupakan sesuatu yang tidak usum. Pada saat sebagian besar manusia Indonesia secara  radikal mengejar nama baik, mencari kekayaan dan popularitas, Cak Emha justru melakukan hal yang sebaliknya.

Percayalah cukup dengan rasa kalbu kemanusiaanku saja untuk tetap mencintaimu sepanjang adaku, tanpa kuminta secuilpun darimu untuk juga mencintaiku Aku sudah lama berlatih mencintai manusia, berlatih untuk tidak dihormati, untuk diremehkan, dihina, dipinggirkan, tanpa itu semua mengurangi cintaku kepada manusia (hal 61).

Apa yang dilakukan seorang Cak Emha sangat tidak populer dan akan sangat kuno bagi kacamata peradaban modern. Peradaban yang didirikan oleh semangat Kapitalisme. Sebuah semangat yang berusaha menyatukan seluruh dunia hanya dalam satu kebudayaan. Dan manusia manusia yang tak mampu mengikuti kehidupan modern akan dianggap manusia yang tak berbudaya. Manusia tersebut akan dilibas secara kejam oleh modernitas.

Di Jejak Tinju Pak Kiai, Cak Emha Juga menyoroti perilaku rakyat Indonesia yang gumunan, latah dan gampang dibikin mabuk. Cukup diserbu dengan iming-iming. Segala yang memabukkan dimasukkan ke Indonesia (hal 99).

Hal tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia sejak Orde Baru hingga hari ini. Apa yang disebut politik pencitraan pada dasarnya memanfaatkan sikap gumunan yang dimiliki oleh rakyat. Pemilihan presiden, pemilihan Gubernur dan apa saja semua diwarnai dengan pencitraan.

Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Cak Emha.

Cak Emha merupakan pengasuh puluhan forum diskusi yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia, misalnya Gambang Syafaat, Bangbang Wetan, Kenduri Cinta, Mocopat Syafaat dan lain-lain. Forum-forum tersebut bukanlah forum orang-orang suci yang menonjolkan pencitraan. Dikatakan sendiri oleh Cak Emha, bahwa forum seperti Bangbang Wetan adalah majelis setan.

Kalau Anda ingin lebih mengenal setan, justru di Bangbang Wetan markasnya. Anda orang-orang yang jauh dari setan, masyarakat Bangbang Wetan sangat dekat dengan setan. Anda memandang setan jauh di luar diri Anda, jamaah Bangbang Wetan melihat setan ke dalam dirinya. Anda teman karibnya Allah sebagaimana Khalilullah Nabi Ibrahim AS, kami golongan manusia yang sangat ketakutan kepada Allah. (hal 116).

Maka Jejak Tinju Pak Kiai barangkali akan menjadi sarana untuk mengenal setan secara lebih dekat.

 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »