Elegi Kejujuran

Arif Rahmawan July 12, 2013
Sesekali tak ada salahnya kita bertamasya ke masa lalu, ke masa ketika kita masih banyak menerima apa saja dari orang-orang di sekitar kita. Dahulu, oleh orang tua yang mencintai kita, sedikit demi sedikit kita menerima pengajaran paling mendasar mulai dari belajar berbicara, belajar berjalan dan belajar apa saja untuk menjadi manusia. Mereka berdua adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia yang terus menjaga kita dengan cinta mereka. Mereka juga mengajarkan tentang  nilai-nilai kebaikan yang harus dipegang manusia. Nilai nilai seperti kejujuran dan kebenaran yang bermuara pada kesejatian sebagai manusia.

IMG_4441Kemudian, usia kita pun bertambah, kita harus menempuh proses perjalanan kehidupan selanjutnya. Pada saat mulai menjadi murid di sekolah, ajaran-ajaran kebaikan dan pelajaran agama juga terus memayungi langkah gerak perjalanan kita. Bapak dan Ibu Guru senantiasa menjelaskan dan mengajarkan hal hal yang baik dan buruk.

Seiring selesainya proses belajar mengajar secara formal di bangku sekolah, kita harus melanjutkan perjalanan kehidupan, yakni mencari nafkah.

Proses mencari nafkah, di negeri Indonesia ini ternyata tak mudah. Ada jalan terjal berliku yang harus ditempuh anak-anak bangsa ini. Jalan tersebut harus dilalui jika ingin menempuh tahap kehidupan selanjutnya.

Di negara Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini ternyata sangat susah mencari sesuap nasi bagi perut yang lapar.

Di sinilah sebenarnya, medan perang bagi kita yang pernah mendapat ajaran kebenaran dari orang tua dan para guru kita. Ilmu kebaikan dan kejujuran melawan godaan untuk mencari nafkah dengan cara yang tidak sejalan dengan ajaran kebenaran.

Yang terjadi kemudian, atas nama perut yang lapar, atas nama kebutuhan hidup, semua atribut yang pernah kita pakai terpaksa kita lepaskan. Kita tanggalkan ilmu kebaikan dan ilmu kejujuran yang selama ini kita pegang dengan kukuh. Kebaikan akan kita pakai apabila dirasa menguntungkan secara finansial bagi kehidupan kita, jika dirasa merugikan maka kejujuran tak terpakai lagi.

Maka, puasa Ramadhan kali ini, menjadi ajang perenungan ke dalam diri kita masing-masing. Sebuah momentum untuk kembali pada kesejatian hidup.

sumber gambar : http://orangjujurhebat.blogspot.com/2012/09/belajar-menjadi-orang-yang-jujur.html

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »