Romantisme Kolak Ramadhan

Arif Rahmawan July 12, 2013
Kiranya sudah tak terhitung jumlahnya, Ustadz atau Kiai yang mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Semoga apa yang dikatakan para Kiai itu benar adanya. Lebih dari itu, aku sangat berharap semoga keberkahan Ramadhan mengguyurku, keluargaku, saudara-saudara dan warga se-RT, se-desa, se-kecamatan, se-kabupaten, se-provinsi dan se-Indonesia kalau perlu se-bumi yang sangat ingin aku cintai sepenuh hati.

kolakYah, semoga berkah Ramadhan mengguyur kita semua, seperti nikmatnya guyuran kolak yang membasahi kerongkongan saat buka tiba.

Mengenai kolak, aku hampir tidak bisa memisahkan antara Ramadhan dan kolak. Begitu aku teringat Ramadhan, saat itu pula aku teringat kolak. Aku mungkin teringat tarawih atau tadarus, tapi kolak lebih identik dengan Ramadhan, bagiku. Maka aku ingin bercerita tentang makanan yang bernama kolak dan bulan Ramadhan.

Kolak, kalian semua pasti tahu dan bisa menjelaskan dengan mudah apa itu kolak. Kolak memiliki identitas ganda, dia bisa disebut makanan dan juga bisa disebut minuman. Kolak adalah makanan yang bisa diminum dan juga minuman yang bisa dimakan. Tapi aku sebut saja bahwa kolak itu makanan. Makanan yang terbuat dari campuran antara santan, pisang, singkong, nangka, labu, gula pasir, gula merah, daun pandan dan tentu saja air. Dan rasanya aku yakin kalian semua sepakat bahwa kolak adalah makanan yang sangat lezat. Untunglah sampai sekarang tidak ada yang mematenkan makanan selezat itu, jadi siapapun bisa membuatnya.

Aku sudah lupa kapan pastinya untuk pertama kali aku makan kolak. Yang pasti orang yang pertama membuatkan kolak untukku adalah Ibuku. Dan apakah kolak yang aku minum pertama kali itu terjadi pada saat bulan Ramadhan atau tidak, aku sudah tidak ingat persisnya.

Tetapi aku masih ingat, saat bulan Ramadhan,  saat aku masih berseragam merah putih, Ibuku sering menghidangkan kolak pisang untuk berbuka puasa. Biasanya beliau menghidangkan kolak di gelas besar atau di mangkuk. Rasanya sangat lezat.

Itulah kolak pertama,  yaitu kolak buatan ibuku.

Kolak lain yang pernah aku makan pada saat Ramadhan adalah kolak yang aku beli pada saat aku menuntut ilmu di kota Solo. Berapa harganya aku sudah lupa. Kolak itu aku beli bersama teman-temanku dari penjual musiman di depan kampus UMS, Pabelan. Pada saat Ramadhan, sepanjang jalan Garuda Mas yang membentang dari depan kampus UMS sampai Ponpes Assalam, penuh dengan penjual kolak.

Tapi pernah juga sesekali aku mendapat kiriman serantang kolak dari teman-temanku tanpa aku harus membeli. Dan tentu saja kolak jenis ini lebih lezat dibanding kolak yang aku beli.

Lalu, ketika aku harus merantau ke Jakarta, ternyata kolak tak pernah bisa kupisahkan dari peristiwa Ramadhan. Di sinilah untuk pertama kalinya aku mendengar istilah kolak biji salak. Sebelumnya aku hanya mengenal kolak pisang atau kolak singkong. Penasaran dengan kolak biji salak, maka pada suatu sore, dari kamar kontrakanku yang terletak di Jakarta Barat, aku berburu kolak biji salak di sebuah pasar yang terkenal dengan nama Pasar Tomang Barat atau lebih dikenal dengan nama Pasar Kopro.

Setelah membeli sebungkus kolak biji salak. Aku membawa pulang ke kontrakanku. Saat azan berkumandang. Segera saja, kolak biji salak itu aku makan.

Ternyata yang disebut biji salak adalah adonan tepung yang tidak mirip biji salak. Entahlah dari mana asalnya adonan tepung tersebut disebut biji salak.

Mungkin saja ada filosofi di balik kolak biji salak, bahwa makanan sekeras biji salak saja bisa lunak saat Ramadhan. Sebuah simbol bahwa Ramadhan mampu mengubah perilaku manusia yang selama ini hatinya sangat keras dan cenderung menjauh dari dirinya sendiri dan Tuhan, maka melalui Ramadhan diharapkan dapat mengajak manusia mendekat kepada dirinya sendiri dan akhirnya sampai pada titik akhir yaitu mendekat kepada Allah.

Bagiku, dengan pemahaman agama dan kehidupan yang masih dedel duwel, aku hanya bisa memaknai Ramadhan sebatas semangkuk kolak. Semangkuk kolak yang dijual pedagang di pasar Kopro, serantang kolak pemberian para sahabatku, kolak yang dijual pedagang musiman , kolak yang dibuat oleh Ibuku dan kolak kolak ramadhan yang barangkali pernah aku makan tapi aku lupa siapa pembuatnya.

Selamat tidak menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang tidak menunaikan ibadah puasa dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi siapapun yang menunaikan ibadah puasa.

sumber gambar : videoresep.wordpress.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »