Nafas Cinta

Arif Rahmawan September 04, 2013
SEDULURKU TERCINTA, sejak lahir hingga mati,manusia itu dimulai tangis dan ditutup tangis,sementara tengah-tengahnya adalah prahara yang tiada henti. Namun prahara ini tidak ada yang sia-sia karena melalui cercapan prahara,diibaratkan prahara itu sebagai batu asah dan menjadikan manusia yang berasal dari debu--oleh prahara,diubah menjadi mutiara. Dengan ini,manusia musti menyadari bahwa setiap kejadian yang tergelar dan kita alami itu selalu bersumber dari kehendak Dia yang baik pada ujungnya,selalu. Dari sini kita kenal ungkapan Jawa:ngrasakke enake ora enak [merasakan manisnya derita]. Kalau merasakan enaknya perkara yang menyenangkan diri itu banyak yang mudah memahami, namun ketika berhadapan dengan merasakan enaknya derita itu hanya pencinta yang memahami. Kenapa? Iya, karena karena bagi pencinta hanya ada satu arah dalam tindakannya, yakni melayani dan tentu soal pelayanan ini membayar kesusahan demi yang dicintainya.

Dalam Al-Qur'an, Dia menyatakan bahwa sungguh manusia ini dicipta dalam serba ketemu susah,ketemu serba ruwet,namun kesusahan dan keruwetan ini hanyalah merupakan selubung atas adanya nilai yang menyertainya dalam mencercap kebahagiaan. Dengan bahasa lain bahwa kesusahan dan keruwetan yang tergelar hanyalah merupakan penempaan yang akan menguak dalam proses kemenjadian. Keyakinan ini musti tertanam kuat, karena kesadaran hati memahami bahwa semua perkara ini dalam genggamanNya,tak ada yang luput. Makanya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw menyatakan:"Cukup dengan keyakinan menjadi kekayaan." Pada sisi lain beliau juga menyarankan untuk merasakan lezatnya Iman, manisnya Iman. Sebagaimana instrumen indra bisa merasakan enaknya segala jenis suguhan lahiriyah, maka instrumen dalam pun bisa merasakan manisnya suguhan-suguhan yang bersifat non-material atau rohani. Dengan demikian, mencercap segala kelezatan jasmani pun bisa menjadi tanjakan mencercap kelezatan rohani. Dia Yang Lahir dan Dia Yang Batin.

Sebagaimana dunia yang terhampar maka kita mengenal Dia dengan sifat-sifat maka hal ini menanjak pada dataran batin akan kelezatan yang tak terhingga. Dari sini, Rumi menyatakan bahwa apresiasi "bagian" merupakan apresiasi Keseluruhan. Dari sinilah menjelma kenyerian rindu yang tak terperikan, karunia sedemikian nyata namun Dia tersembunyi atau Misteri ini.Karunia ini tidak sekedar berbentuk kesenangan namun juga berupa kesusahan,keduanya menjadi daya tarik hati dalam kerinduan. Ketika hati sudah tertarik untuk mencapai kepada Yang Dicintai dan Yang Dirindukan--yakni Dia, maka seluruh aspek suka duka akan terserap kepadaNya itu. Keterserapan ini menjelma kefanaan diri,dan ini akan mengantarkan kepada kesadaran: kemanapun kita berpaling akan melihat wajahNya. Dia kan Misteri? Iya, namun kita selalu bisa merasakan kehadiranNya,adapun kadang Dia dekat dan kadang Dia jauh maka hal itu merupakan keasyikan Dia:berpetak umpet di hati manusia. Dan Rumi menyatakan: Tuhan berdansa di hati manusia.

Kawan-kawan,gambaran yang pas untuk penjelasan ini adalah melalui seruling itu, seruling menjadi simbol spiritual karena ia mampu menampung filosofi perjalanan hidup manusia menuju kesempurnaan dan mewakili kerinduan manusia kepada Tuhan. Seperti halnya seruling yang dipotong dari buluh induknya lalu dijemur, dibakar dan kemudian dilubangi. Manusia juga mengalami kepedihan yang sama dalam hidupnya, manusia terpisah dari Tuhan dan mengalami berbagai terpaan hidup, sebelum akhirnya menjadi pribadi yang matang:yang berguna bagi yang lain dalam hidup ini. Seperti halnya seruling yang hanya bisa berbunyi jika kita tiupkan nafas kita kepadanya,demikian pula manusia yang hanya bisa hidup jika nafas Tuhan ditiupkan di dalam dirinya...Tabik!

sumber : https://www.facebook.com/notes/kiai-budi-ii/nafas-cinta/511157065639530

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »