Pesta Cinta

Arif Rahmawan September 05, 2013
-- Kiai Budi

SEDULURKU TERCINTA, setiap perayaan dalam berbagai bentuk setelah seseorang itu menemukan kegembiraan adalah fitrah manusia,naluri. Dan biasanya, besar kecilnya perayaan ini tergantung besar kecilnya tingkat kesulitan yang dialami, sebagaimana sesuatu yang berharga itu berada dibalik selubung penjagaan-penjagaan selaksa mutiara dibalik selubung gelombang lautan,atau mawar nan wangi berada dibalik duri. Setelah melalui doa-doa yang panjang,usaha yang tiada henti maka sampailah pada momentum jawaban dari di balik kepasrahan ikhtiar itu. Genderang syukur pun ditabuh,pesta digelar sesuai kemampuannya,ia ingin membagi kebahagiaannya kepada handai taulan:dengan makanan enak,dengan musik merdu,dengan hiasan-hiasan indah. Namun perayaan ini sifatnya temporal, setelah usai setiap orang kembali kepada kesendiriannya lagi,dan perayaan itupun menjadi sebuah mimpi yang berlalu:menjadi kenangan.Itulah dunia: mimpi yang berlalu.

Ketika sendiri dan apa serta siapa tak bisa menemani, Dia datang melalui kesadaran diri:bukankah semua yang kau reguk segala nikmat itu adalah dariKu? Diam-diam, kita pada posisi ini menyatakan dalam hati: iya,iya,iya,iya,iya. Dan pesta segala rupa yang tergelar menjadi sebuah tanjakan hati:kegembiraan mana yang bisa menandingi dibanding dengan kehadiran Dia di hati dibalik pesta atas kegembiraan karunia yang Dia berikan ini? Bila pesta yang terselenggara berhenti,sementara Dia menunjukkan pesta yang tergelar setiap hari,setiap saat. Bila pesta sebesar apapun digelar maka ada pesta yang sedemikian lebih besar mengkuyubi dalam titian hari-hari. Melaui indra yang tersedia,kita bisa menyaksikan dan merasakan segala rupa kelezatan yang tergelar,lalu menetes di hati kesadaran atas regukan nikmat dari Dia:tak pernah berhenti. Melalui Cinta yang tertunai, kita mengenal Dia sepenuh hati. Pesta yang temporal lenyap,lalu menjelma pesta yang abadi:meluapkan hati,menggelorakan jiwa,mengobarkan kalbu. Karena apa? Karena Kehadiran Dia ini!!!

Untuk merayakan ini, segala rupa hiasan dunia tidak akan mencukupi,segala kelezatan makanan tak bisa mewakili,segala macam hiburan tak ada yang bisa mencukupi. Hanya hati yang menyerah pasrah yang mampu menampung Cinta Agung ini,hati yang semula hanya segumpal daging berubah menjadi sekuntum mawar yang merekah,selaksa sebuah berlian yang kecemerlangannya dapat mengubah:malam menjadi siang,derita menjadi kebahagiaan,tangis menjadi senyuman,duri terasa roti. Pesta besar-besaran pun kita miliki setiap saat melalui kemabukan pelayanan dalam hidup ini. Dalam kemabukan pelayanan:keberadaan diri terserap akan cahaya Dia. Semua yang datang sebagai karunia dipahami sebagai suguhan pesan rindu Dia untuik kita,sementara semua bentuk pelayanan kita adalah sebagai jawaban pesan rindu kita kepadaNya. Bahkan sejauh kita merasa punya apa dan siapa,maka hal itu tidak layak dibawa karena semua adalah milikNya. Dalam pesta inipun kita akan selalu mendapat kekuatan memberi dan memberi sebagai ekspresi perayaan ini: kepada apa dan siapa!!!

Kawan-kawan,dalam pesta yang bergerak penuh gairah ini,diiringi hiasan alam semesta nan eksotik siang dan malam selaksa temanten:bukan kita dengan pasangan hidup kita namun dengan Dia yang lebih dekat dari urat leher kita. Dia selalu mendampingi dan dengan senyum Dia bertanya:bukakah Aku kekasihmu? Kia pun tak mampu menjawab dengan kata karena keduluan airmata:muncrat di pelupuk kita...Ohhhh!!!!

https://www.facebook.com/notes/kiai-budi-ii/pesta-cinta/509767192445184

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »