Selaras Cinta

Arif Rahmawan September 07, 2013
-- Kiai Budi

SEDULURKU TERCINTA, membiasakan untuk menulis adalah tradisi kenabian, dimana setiap kali Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw mendapat wahyu maka beliau menyampaikan kepada juru tulis yang segera mencatatnya.Dengan demikian Cahaya wahyu yang diterima oleh Rasulullah saw ikut menerangi jiwa juru tulis itu. Namun lama-lama, juru tulis itu menjadi sombong dengan mengatakan:" Kebenaran yang disampaikan oleh Nabi ada juga dalam diriku." Dia merasa arogan,lalu meninggalkan Nabi dan memusuhinya. Kemudian Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw pun menegurnya:"Jika kebenaran yang sama ada dalam dirimu, kenapa engkau berperilaku demikian?" Teguran ini sangat indah dan bermakna mendalam, dimana bila memang Kebenaran yang sama ada diantara kita maka selesailah sudah segala persoalan karena hubungan diantara kita yang menyatu dalam Kebenaran adalah Satu AdaNya. Namun dalam kaitan kisah di atas bisa kita ketahui bahwa Rasulullah saw menyadari Kebenaran,sementara juru tulis baru mengetahui Kebenaran.Memang juru tulis ini akhirnya menyadari kesalahannya namun terlambat: dia terlanjur jauh dari Rasulullah saw.

Hal yang nyata dalam keterjauhan itu disebabkan karena adanya keangkuhan juru tulis, kesombongannya. Banyak sudah kejadian seperti ini,dimana ketika kita mendapat cahaya dan cahaya ini dapat menerangi hidup kita, lalu kita tidak menyadari bahwa cahaya yang menerangi kita itu berasal dari tetangga kita yang bercahaya. Mustinya kita berterimaksih dengan tetangga yang bercahaya ini, namun angkuh dan sombong telah menghalanginya.Sering kali kita menyadari akan kembali kepada hubungan yang intim namun ego mengatakan:"Apa kata orang bila aku kembali."

Berkaitan dengan kesadaran,maka kita akan mengetahui melalui tindakan-tindakan yang mengemuka. Bila kesadaran kita hanya mengenal konsep menerima dan menerima, bahkanmerampas dan merampas,sampai menjarah dan menjarah,maka kesadaran ini berasal dari bawah sadar yang menjelma kesadaran hewani. Bila kesadaran insani lebih tinggi sedikit,walau kesadaran hewani itu ada namun terjaga untuk tidak sampai pada dataran tindakan,dan menjelma menjadi tindakan memberi dan menerima,konsep timbal balik. Adapun kesadaran Ilahi sebagai puncak akan terlihat dalam tindakan memberi dan memberi sebagaimana kesadaran alam semesta yang tergelar ini. Bila kita selaras denganKesadaran Alam yang ada maka kita akan memiliki tindakan selaksa matahari yang selalu menyinari,kita akan selalu bagai angin yang berembus lembut menghampiri,kita akan seperti bunga-bunga yang menebar wangi, kita akan selaksa pepohonan yang berbuah untuk hidangan segar siapapun ini,kita akan bagai bumi yang merengkuh banyak hal di atasnya ini, kita akan seperti samudra yang menampung dari segara arus sungai dan bawaannya itu,kita akan bagai,bagai,bagai,bagai,bagai,bagai,bagai,bagai.Semua,walau dalam sunyi namun jelas dalam tindakan:melayani tanpa imbalan ini.

Kawan-kawan,untuk sampai pada tataran Kesadaran Ilahi tentu tidaklah mudah jalannya karena kita musti melampaui egosentrisitas kita sendiri:dari kesadaran hewani ke kesadaran insani, lalu ke Kesadaran Ilahi.Teruslah bergerak dalam lintasan hidup ini untuk sampai pada Kesadaran tertinggi itu,yang sadar tentu tidak akan sombong,dan yang tidak sadar tentu bisa terasa amat arogansinya. Pada ujungnya,kita akan tahu antara yang mengetahui dan yang menyadari:sungguh berbeda sama sekali...Tabik!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »