Reportase Suluk Maleman 18 Oktober 2013

Arif Rahmawan October 20, 2013
Ada suasana berbeda di pelataran rumah Adab Indonesia Mulia Pati. Pada Jumat malam 18 Oktober 2013 lalu, rumah menghadap ke utara yang terletak Jalan Diponegoro Pati 94  tersebut tampak penuh dengan orang. Mereka berkumpul, duduk bersila di bawah tenda yang didirikan di pelataran seluas dua kali lapangan bulu tangkis.

Pandangan mereka tertuju ke arah panggung di depan mereka yang saat itu sedang menampilkan Orkes Puisi Sampak Gusuran pimpinan Habib Anis Sholeh Baasyin sekaligus pemilik rumah Adab tersebut. Sebuah kelompok musik yang terdiri dari para anak muda kreatif yang menggabungkan unsur Jawa dan modern. Sangat menarik.

Bukan hanya itu yang menarik, panggung tersebut bukan panggung biasa, panggung tersebut di bagi menjadi dua sisi , sisi sebelah kanan, tepat di belakang anak-anak muda yang sedang bermusik tersebut di background berwarna hitam tertulis Ngaji NgAllah, Suluk Maleman, Mencerahkan pikir Menjernihkan Hati.

Sementara di sisi lain terpasang  Kelir, tempat dalang mementaskan wayang. Di depannya seperangkat gamelan menunggu untuk dibelai para waranggana. Berarti akan ada pementasan wayang.

Saat alunan lagu usai, jamaah suluk maleman tersebut tetap antusias, pada pancaran wajah-wajah mereka, sepertinya ada yang sedang ditunggu. Ya ternyata mereka sedang menunggu bintang tamu yang akan hadir malam hari itu. Malam itu, direncanakan hadir tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang. Ki Sujiwo Tejo yang kerap disebut Presiden Jancukers, Ganjar Pranowo sang Gubernur Jawa Tengah, Agus Sunyoto tokoh sejarah dan  Amir Mahmud NS dari Suara Merdeka.

Tema yang akan dibahas malam ini adalah Ruwat Ruwet Indonesia. Meruwat ruwetnya Indonesia.

Setelah dua lagu mengalun : Mari Pulang ke Ladang dan Suluk Keselamatan, Habib Anis sebagai pemililik acara tampil ke atas panggung. Dengan sangat bersemangat, beliau mengundang para pembicara. Berturut-turut naik ke atas panggung, Ibu Lily Wahid, Pak Ganjar Pranowo, Ki Sujiwo Tejo, Pak Agus Sunyoto, Pak Imam Suroso dan beberapa tamu yang lain.

Ketika Habib Anis secara sangat interaktif menawarkan kepada para hadirin perihal bagaimana baiknya acara ini diawali. Beberapa hadirin menjawab agar semua orang yang hadir malam itu seperti biasa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Habib Anis setuju. Hadirin meminta agar nyanyian Indonesia Raya dipimpin oleh Pak Ganjar.

ganjar1

Pak Ganjar dengan sangat bersemangat menyambut permintaan hadirin. Indonesia Raya pun mengalun. Di bawah pimpinan Gubernur Jawa Tengah, jamaah suluk maleman begitu menjiwai setiap kata dari lagu Indonesia Raya.

Saat Indonesia Raya usai, Habib Anis bertanya dengan lantang, apakah selama ini pernah menyanyikan Indonesia Raya sesemangat malam ini. Sebagian besar jamaah menjawab belum.

Menuju sesi berikutnya. Dialog pun segera dimulai. Ibu Lily Wahid mendapat giliran pertama untuk memaparkan pandangannya tentang keadaan bangsa Indonesia.

Beliau bercerita bahwa kondisi bangsa Indonesia secara umum sangat memprihatinkan. Beliau sangat heran dengan kondisi kemiskinan yang semakin lama semakin meningkat. Hutang Pemerintah RI saat ini menurut beliau sudah mencapai 2000 Trilyun. Sementara pada masa Pak harto, utang RI “hanya” 900 Trilyun. Beliau menyebut Rezim saat ini adalah rezim yang tidak bisa bekerja.

Untuk membantu mengatasi ruwetnya masalah bangsa Indoensia, beliau meminta pada para jamaah yang beragama apapun agar sebelum tidur ikut mendoakan bangsa Indonesia.

Sesi berikutnya, Habib Anis memberikan kesempatan kepada Pak Ganjar untuk mulai berbicara. Di luar dugaan, ternyata Pak Ganjar sangat cair ketika berbicara dengan para jamaah. Dengan bahasa yang jauh dari formal, beliau berusaha untuk tidak mengambil jarak dengan jamaah. Berkali-kali jamaah tertawa ketika beliau melontarkan humor.

Beliau meminta dukungan, bantuan dan kerjasama demi terwujudnya Jawa Tengah yang lebih baik. Tujuan beliau adalah mewujudkan daulat pangan.

Dalam bidang pertanian, Pak Ganjar menyinggung masalah kedelai. Agar tidak ada impor lagi, saat ini Indonesia membutuhkan 20.000 hektar lahan kedelai. Sementara saat ini baru tercapai 8000 hektar. Harapan beliau, Jawa Tengah bisa terlibat aktif dalam hal ini. Mengingat salah satu kedelai terbaik dihasilkan oleh Kabupaten Grobogan.

Lanjutnya, untuk mewujudkan daulat pangan, mau tidak mau harus melibatkan semua komponen masyarakat terutama pemuda. Maka beliau mengajak para pemuda untuk bertani dan juga beternak. Ketika beliau melemparkan humor “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku bentuk boyband”. Jamaah tergelak mendengar kalimat ini.

Dalam bidang peternakan, beliau mencontohkan tentang peternakan di Salatiga. Lalu tentang begitu bersemangatnya para pemuda di tempat tersebut dalam beternak.

Acara lebih menarik ketika dibuka sesi tanya jawab. Jamaah tampak sangat antusias dengan paparan pak Ganjar tentang pertanian. Seorang Bapak memberikan masukan dan harapan agar pak Ganjar tetap jujur, jangan ada dusta di antara kita. Lalu seorang pemuda dari Jepara memberikan masukan agar di setiap kecamatan di jawa tengah didirikan waduk.

Setiap pertanyaan tersebut mendapat respon yang cukup baik dari Pak Ganjar. Sayang sekali, Pak Ganjar tidak bisa mengikuti acara hingga selesai.

Di sesi selanjutnya, tokoh yang juga sangat ditunggu penampilannya, yakni Mbah Sujiwo Tejo. Maka mulailah Sang Presiden Jancukers menggelar wayang. Suasana magis memenuhi rumah habib Anis manakala bunyi gamelan dan suara sinden membahana. Begitu merdu dan damai di jiwa.

sujiwotejo

Wayang dimulai dengan tampilnya dua sosok wayang. Di sisi kiri tokoh buto, di sisi kanan sosok ksatria. Buto. Bagi yang tidak mengenal tokoh wayang tentu tak mengerti sama sekali sosok tokoh yang ditampilkan Mbah Tejo.

Petuah kehidupan yang berselang-seling dengan humor disampaikan oleh Mbah Tejo melalui wayangnya. Beliau juga meluruskan salah kaprah tentang kata panakawan. Selama ini ada yang menulis punakawan. Yang benar adalah panakawan.

Lalu, dengan diiringi beberapa tembang anak-anak jawa, Mbah Tejo memaparkan tentang hakikat hidup ini, tidak ada satupun hal yang Allah tak terlibat di dalamnya. Tapi dalam hidup ini masukkanlah panakawan dalam jiwamu dalam hatimu. Gareng, tokoh yang selalu ingin tahu. Bagong, yang nggobloki, Petruk Kantong Bolong, yang menyandarkan segala hal kepada Tuhan. Dan Semar yang merangkum semua itu.

Kurang dari satu jam, pagelaran wayang pun usai.

Giliran Pak Agus Suyitno memaparkan pandangannya tentang Indonesia. Garis besarnya beliau mengajak jamaah untuk menolak tunduk pada nekolim.

Kemudian, perjalanan diskusi semakin berjalan dari lahir ke batin dengan hadirnya Kiai Budi. Beliau menafsirkan makna lagu caping Gunung dalam perspektif cinta. Sangat indah.

Saben bengi nyawang konang

Yen memajang mung karo janur kuning

Kembang wae weton nggunung

Pacitan sarwi jenang

Panas udan aling-aling caping nggunung

Nadyan wadon sarta lanang

Inumane banyu bening

Tiba-tiba Mbah Tejo bangkit dan kemudian mendendangkan Kidung Kekasih. Menambah sejuk batin.

suram suram kekasihku
senja buram tenggelam
tersaling senyap dan hujan sunyi kesedihan
kasihku negeriku
terbenam kehampaan
suka duka kata kata
tak terperi yang tak terkatakan
jauh tersembunyi di reruntuhan
sepercik sepercak mata hati


kunang kunang jiwa yang menghilang
oleh terang akan tercerlangkan
angan angan yang terbentang
teranglah terang nan terang
kau yang lelah kau yang kalah
senyumlah..senyum kehidupan..
senyumlah kehidupan..


Akhirnya acara ditutup dengan Asyroqol, dipimpin oleh Kiai Budi di antara deras airmata yang tak henti-henti mengalir dari kedua sudut mata beliau.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »