Membebaskan diri dari Egoisme

Arif Rahmawan June 04, 2014
Coba bayangkan/ suatu saat nanti/ tak ada lagi orang jadi mangsa kekuasaan/ pada saat itu semua penderitaan/ terasa ringan dijinjing dan diusung bersama/penerus kita kan merasa indahnya gemah ripah loh jinawi/ semua makhluk hidup menjaga melindungi dan saling mengasihi.

Lagu tersebut berjudul bebaskan. Sebuah impian dan harapan yang diteriakkan dengan lantang oleh Marjinal, salah satu grup punk di tanah air ini. Mereka gelisah dengan segala bentuk konflik yang terjadi di antara sesama manusia. Konflik antar manusia dan konflik antar kelompok terus saja terjadi di lingkungan sekitar kita.

Tak peduli apapun jenis pertentangannya, semua itu terjadi karena egoisme yang semakin menguat. Seolah-olah manusia bisa hidup sendiri tanpa manusia lain, tanpa tumbuhan, tanpa hewan dan tanpa makhluk lain.

Pertentangan antar individu, suku, agama, ras, pendukung olahraga, pendukung capres, pendukung parpol dan lain-lain semua bermuara pada egoisme. Bahkan egoisme juga yang menyebabkan berbagai tindak kriminal terus menjadi headline di media massa.

Egoisme hampir sama dengan teori antroposentris yang mengatakan bahwa manusia adalah subjek utama alam semesta ini, mereka berhak bertindak apapun terhadap makhluk lain seperti pepohonan, hewan bahkan makhluk astral.

Terhadap pepohonan, apabila dianggap mengganggu kepentingannya, manusia berhak mencerabut, menebang dan memusnahkannya dari muka bumi. Terhadap hewan juga demikian, manusia tak segan mengurung seekor burung kenari dalam sangkar bambu, hanya demi kepuasan telinganya.

Begitu juga dengan makhluk astral, manusia tak segan memperalat tuyul demi kekayaan pribadi, keluarga dan kelompoknya.

Sebagai anak kemarin sore yang konon baru ada di bumi ini 50.000 tahun yang lalu, manusia jelas durhaka terhadap ibu bumi dan kurang ajar terhadap kakak-kakaknya yang terlebih dulu ada.

Tapi Inilah yang sekarang terjadi. Kebudayaan modern lahir dengan memanfaatkan egoisme manusia. Egoisme juga merupakan anak cucu atau keturunan dari teori antroposentrisme. Kebudayaan modern terwujud karena propaganda egoisme yang tiap hari dijejalkan oleh tetangga, orang tua, lingkungan, negara dan secara masif dikabarkan melalui media massa.

Membebaskan diri dari egoisme, mungkin itulah yang diinginkan oleh Marjinal. Hidup bersama secara damai dengan makhluk lain, merawat bersama-sama bumi titipan Tuhan tanpa harus saling mengalahkan.

Maka ketika egoisme merusak kemanusiaan, membunuh harkat martabat manusia dan merusak lingkungan, tak ada pilihan lain bagi manusia kecuali memeluk erat  hati nuraninya, atau berteduh di bawah payung agama. Karena sesungguhnya egoisme adalah musuh semua, agama tak peduli apapun agamanya : Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Tao, Kristen, Katolik, Kejawen, Sunda Wiwitan dan ratusan agama lain yang tersebar di seluruh Indonesia.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »