Musim hujan di Purwodadi

Arif Rahmawan November 19, 2014
Musim hujan telah tiba di kota Purwodadi. Air hujan Mengguyur alun-alun Purwodadi. Membasahi atap Pendopo Kabupaten, masjid Baitul Makmur,  Kantor Kodim, Kelenteng dan Gereja. Juga pepohonan sepanjang jalan R. Suprapto, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Suhada.

Sementara di desa-desa, suara katak bersahut-sahutan tiap malam. Tanah  yang semula kering kini telah basah.  Sumur yang sebelumnya kosong kini berisi air. Sungai Lusi yang sebelumnya tak mengalirkan air, kini telah menampakkan alirannya. Juga di beberapa sisi Jalan raya terlihat genangan air. Genangan itu tersibak saat sepeda motor melintasinya.

Para petani di Grobogan menyambut hujan dengan gembira. Setelah sekian lama sawahnya kering, ini saatnya bagi mereka untuk menanam padi. Baik dengan cara ulur ataupun nyebar benih padi.

Hujan atau presipitasi, termasuk yang mengguyur kota Purwodadi merupakan salah satu peristiwa alam, sebagaimana ketika pohon apel jatuh ke tanah atau munculnya rasa rindu terhadap seseorang, itu juga proses alami.

Adapun proses terjadinya hujan secara ringkas terangkum dalam siklus hidrologi yaitu sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.

Matahari memegang peranan penting dalam proses terjadinya hujan. Dia bertugas memanaskan air yang ada di bumi dan mengumpulkannya dalam bentuk awan. Kerja matahari seperti mesin sedot diesel yang menyedot air ke atas lalu menyemprotkan air tersebut ke bumi.

Itulah sekilas proses terjadinya hujan yang sudah berlangsung jutaan tahun hingga hari ini.

Saat hujan seperti ini saya teringat dengan peristiwa banjir yang terjadi pada tanggal 3 Desember 2011 di Kecamatan Grobogan dan sekitarnya. Hujan yang turun selama berjam-jam telah menyebabkan banjir bandang.

Saat itu, air hujan dengan deras mengguyur pegunungan kendeng, Jatipohon. Tanpa ada pepohonan, air tersebut tanpa halangan mengalir menuju ke bawah ke Grobogan, menyebabkan banjir bandang.

Setelah itu beberapa kali di Kabupaten Grobogan terjadi banjir yang cukup besar. Belajar dari pengalaman tersebut, sepertinya Pemerintah Kabupaten Grobogan sudah mengantisipasi agar aliran air sungai  bisa berjalan pada jalurnya, yaitu mengalir di sungai.  Terlihat, di sungai sepanjang Getasrejo- Grobogan dan sungai-sunga di desa-desa sudah diperdalam dengan menggunakan alat berat.

Mudah-mudahan hujan musim ini membawa berkah bagi semua manusia di Purwodadi Grobogan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »