Pengalaman Ujian SIM C di Polres Grobogan

Arif Rahmawan December 27, 2014
29 November 2014

Sabtu pagi pukul 08.00 saya tiba di Polres Grobogan. Tepatnya di bagian pelayanan Surat Izin Mengemudi (SIM) yang terletak di bagian belakang kantor Polres Grobogan.

Saya langsung menuju ke pintu masuk yang dijaga oleh dua orang Polisi. Saya bilang pada Pak Polisi tersebut bahwa saya akan membuat SIM C baru. Salah seorang Polisi itu  meminta saya menunjukkan fotokopi KTP. Sayapun menunjukkan fotokopi KTP yang sudah saya persiapkan.

Lalu saya dianjurkan untuk menyerahkan fotokopi KTP saya di loket pendaftaran yang terletak di bagian dalam kantor pelayanan SIM. Setelah menyerahkan fotokopi KTP, saya duduk di bangku antrian yang sudah disediakan.

Ujian Teori SIM C

Kira-kira pukul 09.00, nama saya dipanggil untuk mengikuti ujian teori SIM C di ruang audio visual. Saya masuk ke sebuah ruangan. Ada sekitar 10 orang yang ikut ujian teori SIM C di ruangan tersebut. Semua peserta itu kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan. Kemudian, Pak Polisi memberi pengarahan tentang teknis pelaksanaan ujian teori SIM C.

Dalam ujian teori menggunakan sistem Audio Visual System (AVS) ada 30 soal yang harus dikerjakan. Soal tersebut ditampilkan dalam layar monitor besar di depan peserta ujian. Soal berupa gambar atau gambar bergerak yang disertai pernyataan. Peserta diminta untuk memilih apakah gambar yang ditampilkan benar/ salah. Cara memilih yaitu dengan menekan salah satu tombol yang sudah disediakan di bangku masing-masing. Tiap soal diberi waktu 15 detik untuk menjawab. Jika dalam waktu 15 detik tidak menjawab, maka soal dianggap tidak dijawab.

Nah, untuk lulus ujian teori SIM C minimal harus menjawab 22 soal dengan benar atau 73 persen . Jika kurang dari itu, harus mengulang lagi paling cepat 14 hari.

Saya berhasil menjawab 22 soal dengan benar dan berhak mengikuti ujian Praktik.

Ujian Praktik SIM C

Ujian Praktik dilaksanakan di luar ruangan. Saya dan beberapa peserta ujian praktik SIM C segera melangkah keluar menuju ke lokasi ujian SIM C. Di lokasi tersebut sudah dipersiapkan patok-patok dan garis yang akan digunakan untuk ujian praktik.

Bagi saya, ini merupakan saat yang cukup mendebarkan mengingat belum ada persiapan khusus untuk mengikuti ujian Praktik SIM C ini.

Semua peserta ujian Praktik SIM C kemudian berkumpul, petugas memberikan pengarahan seputar teknis pelaksanaan ujian Praktik SIM C. Ujiannya meliputi : berkendara zigzag, angka delapan, berbalik arah dll. Pada saat berkendara, tidak boleh menyenggol patok dan kaki tidak boleh turun ke tanah. Jika salah satu atau kedua hal tersebut dilakukan maka peserta dinyatakan gagal dan harus mengulang lagi paling cepat 14 hari.

Seorang petugas dari Kepolisian memeragakan cara ujian Praktik dengan benar. Setelah itu, satu persatu peserta mulai melakukan ujian praktik. Peserta pertama gagal, peserta kedua juga gagal. Lalu tibalah giliran saya dan ....gagal juga. Saya tidak mampu menjaga keseimbangan, sehingga kaki akhirnya menyentuh tanah. Dan saya harus kembali lagi paling cepat 14 hari setelah itu.

13 Desember 2014

Kira-kira pukul 08.00, lagi-lagi saya sudah tiba di bagian pelayanan SIM Polres Grobogan. Saya bilang pada petugas di loket pendaftaran, bahwa 14 hari yang lalu saya sudah lulus ujian teori ujian SIM C tapi gagal pada saat ujian praktik. Petugas tersebut menyarankan saya untuk menemui petugas bagian ujian teori SIM C.

Lalu, saya bertanya pada petugas bagian ujian teori SIM C, apa saya bisa langsung ikut ujian praktik atau harus mengikut ujian teori. Oleh petugas tersebut saya diharuskan mengikuti ujian teori lagi. Alasannya, ujian teori dan praktik merupakan satu rangkaian.

Ok, akhirnya saya mengikuti prosedur yang ditetapkan petugas tersebut yaitu mengikuti ujian teori SIM C lagi. Dan hasilnya saya tidak lulus. Saya berhasil menjawab hanya 21 soal dengan benar alias hanya 70 persen benar. Ini berarti saya harus mengulang paling cepat 14 hari lagi.

....Bersambung.

---------------------------------------------------------------------------------------

Catatan :
Dasar hukum penerbitan SIM C :

1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 14 ayat (1) huruf b dan Pasal 15 ayat (2) huruf c.
2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Pasal 77 perihal persyaratan pengemudi)
3) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 Pasal 211 s/d 244 tentang Surat Izin Mengemudi.
4) Peraturan Kapolri Nomor 09 tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi

5) PP No 50 tahun 2010 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (termasuk biaya penerbitan SIM).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »