Islam Melawan Korupsi

Arif Rahmawan April 09, 2015
Senyatanya, umat Islam mengemban tugas yang teramat berat sekaligus mulia. Sebagai mayoritas, umat Islam memiliki peluang sangat besar untuk menjadi pemegang kemudi peradaban di bumi Indonesia ini. Sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, sekarang saatnya untuk mewujudkan cita-cita umat Islam, yakni sebagai rahmatan lil alamin ( rahmat bagi alam semesta). Hal ini berarti menjadi rahmat bagi alam semesta termasuk seluruh manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama, jenis kelamin, status sosial, pekerjaan, dan sebagainya.

Seperti Apakah Rahmatan lil Alamin Itu?

Ulil Absar Abdalla, memberi penafsiran yang sangat menarik perihal rahmatan lil alamin. Pada awalnya, dia merasa kesulitan untuk menjelaskan kata rahmat. Sampai kemudiaan  dia memberi penjelasan, bahwa rahmatan lil alamin merupakan situasi yang dialami janin manusia saat berada dalam rahim ibunda. Pada saat itu, semua kebutuhannya tercukupi dengan baik. Janin merasa aman dan tenteram. Pertanyaannya, mampukah, umat Islam khususnya umat Islam Indonesia menjadi rahmat bagi alam semesta?

Suatu kondisi yang sangat ideal, membahagiakan, menggembirakan dan menenteramkan manusia dan alam semesta seperti ketika bayi masih berada dalam rahim ibu. Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bahkan, saya tidak tahu apa jawaban salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) tersebut ketika disodori pertanyaan di atas. Kecuali, saya bertanya kepada yang bersangkutan.

Tetapi, yang tidak kalah penting adalah proses menuju rahmatan lil alamin itu sendiri. Selama proses tersebut, ada tahap-tahap yang mesti ditempuh, baik sebagai individu muslim maupun sebagai umat Islam. Ada waktu yang tidak pendek. Setiap tahap tersebut harus terencana dan tersistem dengan baik. Jika tidak, maka kebaikan akan kalah dengan kezaliman yang terorganisasi. Tahap dan rencana itu biarlah dirumuskan para pemuka muslim, termasuk Ulil Absar Abdalla, Hidayat Nur Wahid, Habib Rizieq, KH. Said Agil Siraj, Buya Syafii Maarif, Muhammad Ainun Nadjib, dan lain-lain.

Sekarang sambil menunggu mereka merencanakan dan membuat strategi, saya ingin menelusur ke belakang.

Flashback Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Kezaliman

Sebenarnya, pada zaman Soeharto kejahatan korupsi ditulis lengkap yaitu,  Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), begitu sering diiklankan dan disosialisasikan. Pemerintah saat itu tentu saja mengharapkan KKN agar cepat bisa diberantas. Tetapi, karena saking beratnya musuh KKN, Pemerintah justru tunduk dalam cengkeraman KKN. Pemerintah tidak putus asa, agar terasa ringan, Republik Indonesia sekarang ini hanya memiliki target melawan Korupsi. Tapi itupun masih terasa sangat berat. Pemerintah kita sampai terengah-engah.

Sebagai bagian dari negara ini, apakah umat Islam tidak kasihan dengan Republik Indonesia yang sering dihantam bertubi-tubi oleh Korupsi hingga sering berakhir di pojok ring? Saya percaya, pasti timbul rasa kasihan.

Tetapi agar ingatan sejarah tidak terhapus, sekadar mengingatkan bahwa yang disebut Republik Indonesia nama lengkapnya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Didirikan oleh rakyat bekas jajahan Hindia Belanda melalui ujung tombak mereka, penyambung lidah mereka, Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Di bawah ketakutan terhadap kekejaman Belanda, orang-orang pemberani itu diam-diam bercita-cita merdeka, kemudian mengutarakan niat. Setelah itu mereka merencanakan strategi kemerdekaan, baik melalui perjuangan bersenjata melawan KNIL, maupun dengan perjuangan diplomasi dengan meneer-meneer Belanda maupun Tenno Haika dari Jepang.

Saya tak bisa membayangkan keberanian macam apa yang dimiliki oleh Sukarno-Hatta, Jenderal Sudirman, Tan Malaka juga KH. Agus Salim kala itu. Mereka super sekali! Saat itu bersama Ir. Sukarno, tak terhitung banyaknya tokoh-tokoh yang bersatu-padu membebaskan diri dari belenggu perbudakan, imperialisme dan kolonialisme Belanda dan Jepang. Baru pada zaman Sukarno-Hattalah, cita-cita kemerdekaan rakyat selama ratusan tahun akhirnya tercapai.

Perjuangan mengusir penjajahan bangsa Eropa telah dilakukan oleh Pati Unus, Ratu Kalinyamat, Pattimura, Martha Christina Tiahahu. Lebih tak terhitung lagi tokoh-tokoh yang berjuang melawan Spanyol dan Portugis jauh sebelum Ir. Sukarno lahir. Saya menduga, dalam setiap langkah perjuangan, mereka membatin, “Jika aku gagal dalam perjuangan mengusir penjajah ini, biarlah anak-anak cucuku, buyut-buyutku yang akan meneruskannya, meskipun harus melewati waktu ratusan tahun.”

Walhasil, Allah baru mengizinkan Indonesia merdeka, setelah perjuangan yang benar-benar melewati waktu ratusan tahun. Kun Fayakun dari Allah pun, bagi manusia tetap merupakan proses yang tunduk pada sunatullah. Tidak secepat petir. Itulah sekelumit sejarah tentang Republik Indonesia saat membebaskan diri dari belenggu Kolonialisme dan Imperialisme.
Islam versus Korupsi

Islam Versus Korupsi

Sekarang, saya ingin langsung membenturkan Islam dengan Korupsi. Head to head. Islam versus Korupsi. Pertarungan antara Islam melawan Korupsi ini sebenarnya tak jauh beda dengan pertarungan antara rakyat pribumi melawan kezaliman bangsa penjajah kala itu. Sebagaimana Sukarno-Hatta yang pemberani.

Setiap individu muslim seharusnya cukup berani menolak korupsi. Tetapi jika hanya individu yang menolak, hal tersebut hanya akan menghasilkan buih di lautan. Padahal yang dibutuhkan adalah gelombang besar, kalau perlu tsunami. Dibutuhkan gerakan dan organisasi massa Islam yang tegas dan terang-terangan melawan korupsi. Saat organisasi tersebut terbentuk, maka individu muslim menjadi semakin berani menyuarakan perlawanan melawan korupsi.

Selama ini banyak individu muslim yang hati nuraninya menolak korupsi, mereka ingin melawan, tapi ada banyak rintangan menghadang. Apalagi jika mereka masuk dalam lingkungan pekerjaan yang sejak lama menganut kebudayaan korupsi, api perlawanan dalam jiwa mereka akan langsung padam. Yang terjadi selanjutnya, mereka mendiamkan perilaku korupsi atau yang lebih parah, justru menjadi bagian dari korupsi.

Di sinilah peran penting organisasi massa muslim antikorupsi. Organisasi itu sangat berguna untuk menyalakan api perlawanan anti korupsi dari dalam jiwa individu muslim. Jika ini terjadi, api itu benar-benar akan membakar korupsi hingga hangus jadi arang. Organisasi massa tersebut bukan hanya sekelompok orang yang turun ke jalan, lebih dari itu kelompok tersebut harus solid dan terorganisasi untuk berjuang melawan korupsi dalam segala lini kehidupan. Mulai dari individu, keluarga, masyarakat, hingga dalam dunia politik.

Memang benar, di tengah-tengah kebudayaan yang seolah-olah menghalalkan korupsi, mewujudkan organisasi massa semacam itu tentu bukan hal mudah. Pasti butuh keberanian, kekuatan, nyali dan daya tahan yang sangat kuat. Mungkin juga akan menelan korban. Dibayar dengan tetes air mata bahkan darah. Mungkin akan menghabiskan waktu ratusan bahkan ribuan tahun. Dan mungkin akan gagal. Jika perjuangan ini gagal, biarlah diteruskan anak cucu kelak, tetapi ikhwan fillah inilah medan jihad sesungguhnya bagi para penerus Rasul Muhammad SAW. Islam melawan Korupsi!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »