Menyoal Kasus Video Amoral Sepasang Remaja di Grobogan

Arif Rahmawan April 03, 2015
Pada awal bulan April ini, masyarakat Kabupaten Grobogan dikejutkan dengan beredarnya video amoral sepasang remaja, yang salah satunya berseragam Sekolah Menengah Keagamaan. Peristiwa tersebut terjadi di Gua Lawa, sebuah obyek wisata di kawasan Pegunungan Kapur Utara.

Dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut, kejadian tersebut bermula ketika sepasang remaja yang masih unyu-unyu itu berwisata ke Gua Lawa. Di situlah mereka berdua melakukan hubungan layaknya orang pacaran zaman sekarang. Tapi, malang, saat sedang asyik melakukan tindak amoral yang dilarang orang tua, guru, negara maupun agama, mereka kepergok warga.

Sialnya, oleh warga tersebut, sepasang remaja itu justru dipaksa melanjutkan adegan dan parahnya lagi, direkam dengan menggunakan handphone !

Saat saya mendengat akhir cerita tersebut, tiba-tiba saya teringat sosok Ahok. Saya ingin Ahok dengan lantang mengucapkan bangsat dan taik, bukan pada pemeran tetapi pada perekam adegan tersebut. Sayangnya Ahok tidak berada di Grobogan, dia hanya ada di DKI.

Perbuatan yang dilakukan sepasang remaja tersebut memang keterlaluan, tapi yang dilakukan oleh warga lebih keterlaluan lagi.

Terhadap dua kejadian tersebut, menyeruak pertanyaan dalam benak saya, bagaimana mungkin, perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan di tengah masyarakat Jawa yang terkenal dengan budaya sopan santun dan tepa selira ?

Kriminalitas Menurut Karl Marx dan Emha Ainun Nadjib

Ini tentu menimbulkan paradoks. Tetapi, saya teringat dengan apa pendapat Karl Marx tentang tindak kriminal yang dilakukan oleh manusia. Dalam perspektif Marx, penyebab dari semua aksi kriminalitas adalah karena sistem yang buruk.  Maksudnya bagaimana?

Pertanyaan tersebut akan dijawab oleh Emha Ainun Nadjib.

Cak Nun, dalam sebuah forum diskusi Bangbang Wetan yang berlangsung akrab di Surabaya, pernah ditanya soal kebrutalan Bonek yang kala itu dianggap sudah sangat meresahkan atau bisa disebut mengarah pada tindak kriminal. Dia memulai jawaban dengan dua buah penggambaran peristiwa.
Peristiwa pertama ketika terjadi banjir. Kira-kira apa yang dilakukan orang? Menyalahkan airnya ataukah mencari penyebab banjir?.

Yang kedua, ketika terjadi bencana kebakaran. Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang? Menyalahkan apinya atau mencari penyebab terbakarnya api?

Pasti mayoritas orang akan mencari penyebab banjir dan penyebab kebakaran.

Dalam pandangan Cak Nun, bonek itu sama dengan banjir, bonek sama dengan api. Bonek hanyalah akibat, sedangkan sebabnya sendiri tidak pernah coba diselesaikan. Cak Nun menganggap kebrutalan bonek hanya output dari hasil dari proses besar dari sistem yang penuh dengan bonek dan negara yang didirikan dengan semangat bonek.

Itulah, yang dimaksud oleh Karl Marx, bahwa saat terjadi tindak kriminal itu hanyalah akibat dari busuknya sistem yang berlaku di masyarakat. Jika dikaitkan dengan video amoral sepasang remaja di Grobogan di atas, perilaku seks bebas dan perekaman adegan oleh warga, itu hanyalah akibat dari rusaknya tatanan kehidupan di masyarakat.
Jika demikian, apakah ini berarti ciri-ciri positif masyarakat jawa seperti Sopan santun, andap asor ataupun tepa selira sudah mulai terkikis?

Jawabannya, saya serahkan pada pembaca sekalian. Kali ini saya mencoba mengurai apa sesungguhnya penyebab terjadinya tindak amoral yang dilakukan pelajar yang masih berseragam.

Dengan berpijak pada apa yang dikatakan Marx, kejahatan yang dilakukan individu hanyalah ekses dari buruknya keadaan di masyarakat. Dosa yang ditanggung individu tersebut bukan semata-mata kesalahan individu tersebut. Ia hanya efek buruk dari rusaknya sistem di masyarakat. Perilaku amoral yang dilakukan sepasang remaja dan perilaku menyimpang yang dilakukan perekam adegan bukan semata-mata kesalahan mereka, tapi juga kesalahan masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas masyarakat bangsa dan negara.

Penyebab Rusaknya Tatanan Masyarakat

Lantas,  mengapa tatanan masyarakat menjadi begitu busuk dan rusak?

Kerusakan yang terjadi dalam masyarakat disebabkan oleh faktor intern yang ada dalam masyarakat sendiri dan faktor ekstern.

Faktor ekstern ternyata berasal dari pengemudi jalannya kapal besar bernama bangsa Indonesia, yakni Pemerintah. Sedangkan faktor intern yang terjadi dalam masyarakat hanyalah respon atas tindakan pemerintah.

Dalam kaitannya dengan merebaknya seks bebas di Indonesia, apakah yang telah dilakukan oleh Pemerintah. Kekeliruannya yaitu pemerintah telah mengizinkan internet masuk ke Indonesia tanpa sensor. Inilah sumber malapetakanya. Internet ibarat pisau bermata dua, di satu sisi memberikan manfaat positif, di sisi lain justru menjerumuskan.

Tapi masyarakat terlanjur merespon. Masyarakat kota merupakan masyarakat yang pertama kali menikmati teknologi canggih tersebut. Pada awal keberadaannya, internet hanya bisa diakses melalui Personal Computer. Sejak saat itu lahirlah warung-warung internet di berbagai kota di Indonesia.

Seiring laju perkembangan teknologi, internet tidak hanya bisa diakses melalui warnet, tapi juga melalui pesawat handphone. Keadaan ini menyebabkan operator telekomunikasi bersaing ketat menjual paket layanan internet. Duet maut antara produsen handphone dan operator telekomunikasi ini menjadi momentum membesarnya jumlah pengakses internet. Internet bisa diakses masyarakat desa termasuk desa yang berada di di pucuk gunung.

Mengapa internet bisa tersebar secepat itu. Ternyata, penyebaran internet secara masiv  dilakukan oleh para penempuh studi, mulai dari tingkat SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Dan akhir-akhir ini siswa Sekolah Dasar pun tak bisa mengelak dari jeratan internet.

Di kampus atau kompleks sekolah mereka, para pelajar atau mahasiswa,sambil bergurau, secara aktif membuka gadget lalu membuka internet. Saling tukar informasi. Di situ berhamburan informasi mulai dari informasi kuliah, teknologi, kegiatan sehari-hari, isu terorisme bahkan informasi pornografi. Mereka memilih dan bertukar informasi apapun yang mereka senangi tanpa kontrol.

Akhirnya, internet menjadi sahabat yang setia 24 jam menemani para generasi penerus bangsa. Internet telah menggeser peran orang tua, sahabat, saudara, tokoh agama dan masyarakat sekitar.

Internet telah menjadi pemenang.

Sementara itu di rumah, orang tua mungkin saja setiap hari menasihati anak. Tapi saat di luar rumah, anak bergaul dengan bermacam-macam manusia yang terkadang dianggap lebih bisa memahami mereka dibanding orang tua.

Itulah, masalah utamanya, susah payah orang tua menasihati anak, susah payah tokoh agama memberi petuah, mereka masih kalah dengan internet.

Lalu, bagaimana solusinya?

Perjuangan orang tua mengasuh anak, perjuangan guru mendidik siswanya atau Khotbah tokoh agama di berbagai tempat ibadah bisa mendadak menguap tak berbekas apabila pemerintah tidak serius menangani pornografi yang menggempur melalui internet.

Solusinya tentu saja Pemerintah, Wakil Rakyat dan masyarakat perlu lebih intim berkomunikasi. Masyarakat tidak perlu ragu-ragu mengkritik Pemerintah melalui prosedur yang benar. Masyarakat maupun Pemerintah harus move on dari masa lalu, move on dari masa kerajaan. Penguasa bukan merupakan sosok raja yang tidak bisa dikritik. Sebaliknya, masyarakat juga bukan hamba yang hanya bisa sendika dawuh terhadap Pemerintah.

Akhirnya, menghakimi sepasang remaja tersebut tanpa mau menengok situasi masyarakat, bangsa dan negara bukan tindakan yang bijak. Sebaliknya, beranikah para tokoh agama, tokoh masyarakat atau pemimpin daerah sampai pemimpin nasional mengambil tanggung jawab atas segala tindak kriminal dari sebagian masyarakat yang dipimpin dan diemongnya?

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »