Arti Penting Universitas Terbuka Bagi Masyarakat Indonesia

Arif Rahmawan July 16, 2015
background-website-dies
Tulisan ini saya mulai dengan sebuah cerita tentang awal perkenalan saya dengan Universitas Terbuka. Perlu saya ketengahkan di sini, anggap saja untuk melegakan batin saya dan untuk memberitahu pada pembaca bahwa saya pernah keliru menafsirkan kata terbuka. Cerita ini terjadi sudah cukup lama, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.

Ceritanya, dulu, teman saya pernah bercerita kalau dia baru saja tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Terbuka. Alih-alih mendengarkan penjelasannya, saya langsung membenturkan makna kata terbuka dengan kata yang berlawanan, tertutup. Tertutup berarti berada di dalam ruangan. Ini biasanya terjadi pada proses perkuliahan di banyak perguruan tinggi. Ada tembok untuk membatasi satu ruangan dengan ruangan lainnya dan ada atap sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan. Lalu,  begitu saya mendengar kata terbuka, secara otomatis saya menyimpulkan bahwa perkuliahan di Universitas Terbuka terjadi di ruangan terbuka. Tidak ada atap dan tidak ada tembok !

Tergambar di benak saya saat itu, kuliah di UT dilakukan di lapangan luas,  mungkin mirip lapangan sepak bola di kampung-kampung. Gambaran yang tercipta di benak saya saat itu, seorang Dosen berdiri sambil memegang buku, di hadapannya berdiri puluhan mahasiswa yang sedang sibuk menulis di buku yang dipegang oleh tangan kiri, sambil sesekali menyeka keringat karena kepanasan. Sistem perkuliahan tersebut tentu tidak menyenangkan.

Itulah tafsir ngawur saya tentang terbuka, saat itu.

Tapi ternyata tafsir ngawur tanpa dasar tersebut terbukti salah total. UT mengoreksi kesalahan saya dengan menjelaskan apa maksud dari sistem perkuliahan Jarak Jauh dan Terbuka. Dalam Katalog Sistem Penyelenggaraan Program Studi Non Pendas Universitas Terbuka 2015 pada halaman 2 tertulis, istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi).

Sedangkan makna terbuka ternyata jauh berbeda dengan penafsiran saya. Makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat).

Logo Universitas Terbuka Berwarna

Berarti, gambaran saya tentang proses perkuliahan di Universitas Terbuka melenceng jauh dari apa yang dimaksud dengan  jarak jauh dan terbuka. Untuk itu, demi menghapus kenangan tentang kesalahan tafsir, ada baiknya, saya melanjutkan tulisan ini dengan menguraikan arti penting sistem perkuliahan jarak jauh dan terbuka di UT bagi beberapa kelompok masyarakat. Setidaknya ada tiga kelompok masyarakat yang akan sangat terbantu dengan kehadiran Universitas Terbuka : pertama, kelompok masyarakat yang baru lulus sekolah menengah. Kelompok ini merupakan kelompok yang sejak lulus sekolah memang memiliki tujuan untuk menempuh pendidikan tinggi. Selepas menerima ijazah sekolah menengah, mereka dihadapkan pada banyak pilihan perguruan tinggi. Akan lebih baik jika mereka menempuh kuliah di UT. Dengan sistem kuliah terbuka dan jarak jauh, kelompok ini bisa tetap menempuh kuliah sambil mencari nafkah jika memang diperlukan.

Kedua, orang yang belum berminat melanjutkan kuliah. Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang sudah lama lulus dari sekolah menengah. Pada awalnya, mereka sudah tidak memiliki keinginan untuk kuliah di perguruan tinggi dengan berbagai sebab terutama dana dan waktu. Kelompok ini terdiri dari orang yang sudah bekerja maupun yang belum bekerja. Ketika kelompok ini menerima informasi tentang fleksibelnya waktu pendaftaran, proses perkuliahan yang bisa dilakukan di mana saja dan ringannya biaya di UT, kemungkinan kelompok ini akan termotivasi untuk menempuh pendidikan tinggi di UT . Dalam hal ini UT telah merangsang kelompok masyarakat yang sebelumnya tidak berniat menempuh pendidikan di perguruan tinggi untuk mengikuti kuliah.

Ketiga, karyawan, buruh, pekerja di negeri ini atau TKI/ TKW yang berada di luar negeri yang berminat menempuh pendidikan tinggi. Kelompok ini terdiri dari para pekerja atau karyawan yang memiliki sedikit waktu. Kegiatan sehari-hari mereka berkutat dengan pekerjaan. Meskipun demikian, di lubuk hati mereka masih tersimpan keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi. Dengan adanya sistem perkuliahan terbuka dan jarak jauh yang dimiliki oleh UT, mereka bisa menempuh pendidikan tinggi di sela-sela pekerjan mereka.

Terakhir, berdasarkan apa yang telah dilakukan selama ini, UT sebenarnya sedang menyosialisasikan kepada banyak orang, bahwa menempuh pendidikan tinggi bukan hal yang mewah dan sulit. Proses perkuliahan yang mudah akan mendorong banyak orang untuk kuliah. Selama masih ada tekad dan kemauan untuk terus belajar, masyarakat bisa memilih UT sebagai jalan menempuh ilmu. Jika itu terjadi, semakin banyak masyarakat Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi, peluang untuk membangun bangsa yang beradab juga akan semakin besar.

----------

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-31. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »