Meningkatkan Partisipasi Politik Warga Grobogan

Arif Rahmawan July 10, 2015
Politik itu kejam. Politik itu tabu. Politik itu kotor. Politik itu Cabul. Apa lagi, Silakan tanya tetangga anda atau orang yang saat ini ada di samping anda. Carilah semua sumpah serapah sebagian masyarakat tentang politik. Mayoritas warga Grobogan pasti setuju akan hal tersebut. Apalagi perilaku para politikus yang kerap disorot media adalah perilaku negatif, maka semakin muntahlah rakyat Indonesia termasuk warga Grobogan ketika mendengar kata politik.

Menganggap politik sebagai sebuah aib dan dosa yang harus dihindari justru merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan terhadap cita-cita Bung Karno sebagai pendiri negeri ini. Bung Karno pada tahun 1932 menulis dalam fikiran rakyat,  "apakah demokrasi itu ?demokrasi adalah pemerintahan rakyat. Cara pemerintahan ini memberi hak kepada semua rakyat untuk ikut memerintah."

Apa yang bisa anda tangkap dari tulisan Bapak Bangsa tersebut. Sebagai rakyat, tidakkah tiba-tiba jantung anda berdegup-degup lebih kencang saat mendengar bahwa rakyat diberi hak untuk memerintah. Rakyat yang sejak zaman kerajaan hingga penjajahan Portugis, Spanyol, Belanda dan Jepang hanya bertugas sebagai hamba dari penguasa, tiba-tiba mendapat hak untuk ikut memerintah. Ini tidak pernah terjadi pada masa lampau. Para leluhur anda tidak pernah mendapat kesempatan seperti ini. Tidak pernah. Itu tidak pernah terjadi pada zaman Medang Kamulan, tidak juga zaman Majapahit ataupun zaman kerajaan Demak, apalagi zaman penjajahan Inggris, Spanyol, Belanda dan Jepang. Sistem Kerajaan tidak memberikan kesempatan pada rakyat untuk terlibat dalam mengatur negara.

Lalu pada 17 agustus 1945, tiba-tiba Bung Karno bersama rakyat membalikkan susunan penguasa dan yang dikuasai seperti membalikkan martabak. Rakyat yang semula berada di bawah, oleh Bung Karno diletakkan di atas sebagai pemilik kedaulatan tertinggi. Sedangkan penguasa hanyalah wakil dari rakyat. Itulah sejatinya Republik Indonesia yang berdasar Pancasila.

Kelahiran Republik Indonesia sesungguhnya  memberi ruang yang begitu besar bagi rakyat untuk mengatur sendiri negaranya.

Hal tersebut berlaku bagi warga Grobogan yang sebentar lagi akan mengikuti PemiluKada pada akhir tahun 2015 ini.

Pemilikada merupakan kesempatan emas bagi warga Grobogan untuk ikut andil dalam memilih Bupati periode 2016-2021. Warga wajib melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam pemilukada ini. Jika sebelumnya hanya ikut mencoblos, tak ada salahnya aktif menyampaikan aspirasi dan haknya kepada calon Bupati sesuai mekanisme yang berlaku Keaktifan rakyat dalam dalam berpolitik secara sehat dilindungi oleh Undang-undang. Demokrasi tanpa keterlibatan penuh rakyat belum bisa disebut demokrasi, melainkan demokrasi KW9.

Semua warga bisa terlibat. Misalnya, Para petani bersatu dalam satu organisasi yang kuat kemudian mengundang calon bupati agar mau memperjuangkan aspirasi para petani. Apabila memang sanggup, maka calon bupati tersebut bisa dipilih. Jika sudah terpilih, wajib bagi Bupati dan dukungan para petani untuk bersama-sama memperjuangkan hak dan aspirasinya sampai berhasil.

Ini berlaku juga bagi profesi lain, para buruh, Wiyata Bakti, Pengusaha dan lain-lain.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan demokrasi pancasila yang jujur dan adil. Sayangnya, warga masih belum mendapat pendidikan politik yang memadai.

Demokrasi Pancasila di Grobogan hanya akan terwujud dengan keterlibatan penuh warga.  Apabila mencoblos hanya karena iming-iming sesaat, berarti terwujudnya Demokrasi Pancasila masih membutuhkan perjalanan yang cukup panjang.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »