Menyambut Kehadiran Partai Idaman

Arif Rahmawan July 28, 2015
Pada pertengahan tahun ini, dunia politik Indonesia gempar. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama mengguncang jagat perpolitikan Indonesia dengan mendeklarasikan Partai. Meski dianggap mengejutkan, langkah Sang Raja ini merupakan hal yang sebenarnya sangat wajar. Dalam demokrasi, siapa saja WNI berhak mendeklarasikan partai politik.

Rekam jejak Bang Haji dalam bidang  politik sebenarnya bukan hal baru. Sejak  masa orde baru hingga sekarang, Rhoma kerap berpindah dari satu  partai ke partai lain. Rhoma Irama pernah tercatat sebagai anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Saat itu, memilih partai yang berseberangan dengan Pemerintah, bukannya tanpa risiko. Dia pernah dicekal Orde Baru selama 11 tahun. Tidak boleh menyelenggarakan konser dan tampil di TVRI. Bayangkan coba, jika saat itu, Soneta galau dan mutung bermusik, tentu Sodiq dan Bodin tak mungkin bisa mendendangkan Gelandangan atau Dasi dan Gincu.

Pencekalan berhenti sampai di situ? Tidak. Pada 1984, Rhoma Pernah juga dipanggil MUI gara-gara lagunya mengutip ayat Alquran. Rhoma menyelesaikan semua itu dengan baik.

Selain di PPP, Rhoma pernah juga masuk ke Partai Golkar. Karena saat itu Rhoma menganggap, Partai tersebut sudah memperjuangkan Islam. Setelah orde baru tumbang, Rhoma agak lama tidak terlibat dalam urusan politik. Baru pada tahun 2014, Rhoma merapat ke PKB. Kemudian Partai Bulan Bintang (PBB). Sayangnya, sebagaimana PKB, PBB tidak memberikan ruang yang cukup bagi Sang Raja. Akhirnya pada tahun 2015, dia mendeklarasikan Partai Idaman.

Kritik sosial dalam Lagu Rhoma

Tidak ada yang meragukan kepiawaian Rhoma Irama dalam bermusik. Bagi Indonesia dia telah mengantarkan dangdut sebagai salah satu musik bergengsi di dunia. Tak heran, majalah Rolling Stone beberapa kali memberikan penghargaan kepadanya.

Dimensi lagu Lagu Rhoma pun takmelulu soal cinta, tetapi mencakup kritik sosial, politik dan keagamaan. Pada tahun 1980, Jauh sebelum KPK lahir,  Rhoma melalui lagu Indonesia, telah mengkritik dengan tajam budaya korupsi di Indonesia. Kemudian lagu Judi, Sumbangan, Hak Asasi Manusia merupakan bentuk kritik terhadap berbagai peristiwa di negara ini. Dengan berbagai lagu tersebut, Rhoma bukan hanya telah menghibur masyarakat tetepi juga telah membangkitkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Tetapi mungkin itu belum cukup.

Pendeklarasian Parpol, bagi Rhoma merupakan bentuk perjuangan memperjuangkan ideologi bahkan mungkin teologi. Baginya, seni dianggap kurang sakti untuk mengantar rakyat Indonesia ke pintu gerbang kemakmuran, sebagaimana yang tertulis dalam lirik Indonesia,”Seluruh harta kekayaan negara adalah untuk kemakmkuran rakyatnya.”

Sekarang, partai Idaman telah dideklarasikan. Belajar dari karir sebelumnya, Rhoma memimpin grup musik yang eksis selama bertahun-tahun, kini Rhoma menjadi pucuk pimpinan dari sebuah partai politik. Soneta maupun Partai Idaman memiliki persamaan. Mereka harus menjaring massa sebanyak-banyaknya. Soneta mengumpulkan massa untuk menikmati hiburan, Partai Idaman mengumpulkan massa untuk tujuan politik.

Dari Soneta Ke Partai Idaman

Soneta- pelan tapi pasti- telah terbukti sukses menjaring massa penggemar fanatik mereka selama bertahun-tahun. Grup dangdut ini menorehkan namanya dalam sejarah dunia musik. Sosok Rhoma sebagai musisi handal sekaligus dai dengan dukungan personil soneta yang solid merupakan kunci utama kesuksesan grup band ini.

Soneta berdiri pada 1970. Kehebatan Soneta dibanding musisi lainnya, saat itu merupakan satu-satunya grup musik melayu yang memadukan warna-warna baru yang tidak terdapat pada musisi dangdut manapun saat itu.

Sejak awal,  Rhoma sudah menentukan arah dan tujuan Soneta, dia  mencanangkan Islam sebagai menjadi ideologi musik. Memadukan dangdut dan islam merupakan hal yang tidak lazim saat itu. Dunia musik pada saat itu identik dengan hura-hura, minuman keras dan narkoba. Sebelum mendakwahkan kebaikan, Rhoma harus menghilangkan minuman keras dalam tubu soneta.

Hasilnya, beberapa anggota Soneta berhenti mengonsumsi narkoba, tapi ada juga yang masih tetap menjadi pecandu. Untuk yang kedua, Rhoma akhirnya memecat mereka.

Selain hambatan dari dalam tubuh soneta sendiri, berdakwah dan berdangdut bukannya tanpa rintangan. Rhoma menuturkan, ketika pertama kali mengucapkan salam dalam sebuah konser, dia dilempari sandal oleh penonton. Tapi Rhoma tak patah arang, dia gigih menorehkan sejarah bagi musik Indonesia. Perjuangan tak sia-sia, Soneta berkibar selama tiga dasawarsa lebih, hingga hari ini.

Pertanyaan selanjutnya, mampukah Partai Idaman mengikuti jejak sukses Soneta?

Dalam perjuangan menjaring massa, Partai Idaman memiliki keunggulan dibanding dengan Soneta. Jika Soneta harus tertatih tatih menjaring massa penggemar, Partai Idaman hanya perlu mengerahkan massa Soneta ke Partai Idaman. Penggemar soneta pasti sudah memahami garis besar yang mendasari Rhoma Irama dalam bermusik dan berpolitik adalah Islam. Mereka telah teruji selama puluhan tahun mengenal ide dan pemikiran Rhoma Irama dari lirik lagu yang diciptakannya. Jika visi dan misi Partai Idaman tidak banyak perbedaan, para penggemar akan tetap mengidolakan Rhoma sekaligus memiliki loyalitas sebagai kader partai. Mereka bisa melakukan apa saja demi kepentingan partai. Partai Idaman akan menjadi partai figur sekaligus partai kader.

Realitanya, mari kita tunggu.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »