Pentingnya Literasi Informasi Bagi Guru Dan Pustakawan Sekolah

Arif Rahmawan November 27, 2015
Menurut wikipedia, Literasi informasi adalah kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi. Literasi informasi dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Pemilihan dan pemilahan informasi yang tepat oleh Guru maupun peserta didik dalam proses belajar di sekolah membutuhkan keahlian tersendiri.

Saat ini kemampuan literasi informasi sangat penting dimiliki oleh Pustakawan maupun Guru. Mudahnya mendapat informasi membuat masyarakat akan mengalami kebingungan saat harus memilih dan memilah informasi yang tepat yang berguna bagi dirinya. Berhadapan setiap hari dengan peserta didik, mau tidak mau akan menimbulkan masalah yang harus segera diselesaikan. Masalah tersebut misalnya bagaimana mengatasi peserta didik yang terkesan tak acuh terhadap pelajaran atau bagaimana mengajarkan metode pengajaran yang tepat dalam mengajar.

Sebaliknya, bagi peserta didik, mereka juga mengalami masalah misalnya, bagaimana agar nilainya baik, bagaimana mengatur waktu belajar atau bagaimana agar bisa cepat memahami materi pelajaran. pertanyaan yang lebih penting lagi, bagaimana Pustakawan, Guru maupun peserta didik bisa merumuskan masalahnya.

Untuk mengatasi semua itu, ada beberapa model pendekatan untuk memecahkan masalah.

Model pertama, bernama British Model. Model ini diterapkan di sekolah dan disebut dengan keterampilan informasi. Model British mempunyai sembilan langkah untuk memecahkan masalah yaitu:

(1) Memformulasikan dan menganalisa kebutuhan
(2)Mengidentifikasi dan memeriksa sumber-sumber informasi
(3) Menelusur dan menemukan sumber-sumber individu
(4) Menguji, memilih sumber-sumber informasi
(5) Mengintegrasikan sumber-sumber informasi tersebut
(6) Menyimpan dan mensortir informasi
(7)Menginterpretasikan, menganalisa, mensintesiskan dan mengevaluasi informasi
(8) Mempresentasikan atau mengkomunikasikan informasi dan
(9) Mengevaluasi. Dalam perkembangan zaman yang semakin modern ini, masyarakat memiliki akses yang sangat mudah terhadap informasi.

Model Kedua, Big 6™ adalah sebuah model literasi informasi yang dikembangkan oleh Michael B.Eisenberg and Robert E. Berkowitz di Amerika Serikat pada tahun 1988. Model ini sangat populer bukan saja di Amerika Serikat melainkan juga negara-negara lain yang sudah menyadari pentingnya penerapan literasi informasi dalam proses belajar mengajar di sekolahnya. Eisenberg dan Berkowitz juga secara aktif dan berkelanjutan melakukan promosi dengan mengeluarkan terbitan-terbitan yang bermanfaat bagi pemakainya. Di Indonesia sendiri, model ini juga popular digunakan di banyak sekolah maju dalam kegiatan program literasi informasi mereka. Bahan-bahan tentang model ini juga sangat mudah diperoleh di internet dibandingkan model-model lainnya. Itu sebabnya, pengguna model ini dapat dengan mudah memperoleh hal-hal baru yang dikembangkan oleh Eisenberg dan Berkowitz melalui internet. Dengan demikian, penggunaannya juga semakin memasyarakat. Apalagi, pengembang model ini juga menciptakan model sederhana bagi para siswa di sekolah dasar untuk memudahkan mereka dalam mengembangkan keterampilan literasi inforami sejak dini. Model ini disebut dengan Super3 yaitu Plan, Do dan Review. Sejauh ini, hanya model ini yang dikembangkan secara khusus untuk anak-anak di sekolah dasar.

Enam langkah dalam model Big 6™ adalah:
(1) Penentuan tugas atau masalah
(2) Strategi pencarian informasi
(3) Pencarian sumber informasi yang diperlukan
(4) Pemanfaatan informasi yang sudah diperoleh
(5) Pengintegrasian informasi yang diperoleh dari sumber-sembert tersebut
(6) Pengevaluasian terhadap hasil informasi yang diperoleh dan proses pemecahan masalahnya.

Perpustakaan Kemendikbud Selenggarakan Workshop Literasi Informasi


Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selenggarakan workshop literasi informasi bagi guru dan pustakawan sekolah. Kegiatan ini digelar di Perpustakaan Kemendikbud Jakarta Rabu (25/11). Workshop ini merupakan rangkaian dari kegiatan Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2015.

“Workshop seperti ini penting sekali untuk pustakawan dan guru dalam pemecahan masalah siswa,” kata Hana Chaterina George, Ketua Asosiasi Profesional Informasi Sekolah Indonesia (APISI). Hana menambahkan bahwa saat ini banyak siswa yang tidak tahu akan pentingnya mencantumkan sumber informasi yang ia ambil. Hal tersebut terjadi karena sejak dini tidak pernah diajarkan mengenai literasi informasi, tambah Hana.

Peserta workshop ini berjumlah 28 orang yang terdiri dari guru dan pustakawan sekolah. Manfaat penerapan literasi informasi ini, yaitu: a. Keragaman sumber informasi dalam bentuk tercetak maupun elektronik; b. meningkatkan kemampuan reading comprehension dan kemampuan pembelajaran serta penelitian; c. siswa yang memperoleh keterampilan literasi informasi di sekolah akan lebih sukses di perguruan tinggi; dan d. menjadi pembelajaran seumur hidup.


sumber artikel :
http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4878
http://halatuputty.blogspot.co.id/2013/12/cerdas-di-era-informasi-penerapan.html




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »